Sugeng Hariyono Sang Pustakawan Inspirator



Lampung Timur - Sugeng Hariyono sang inspirator pustaka motor keliling asal Tanah Siger ini mendapat penghargaan berupa motor roda tiga dari Universitas Terbuka. Pemuda lulusan D2 Ilmu Perpustakaan UT UPBJJ Surabaya tersebut, kesehariannya adalah sebagai tukang tambal ban di Jln. Lintas Timur Sumatera Desa Pematang Pasir Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan. Disela-sela kesehariannya inilah, ia merakit motor pustakanya dan meluangkan waktu untuk keliling kampung meminjamkan buku secara gratis kepada masyarakat.








Penghargaan tersebut diberikan bukan tanpa alasan, hal ini berkat perjuangan sang inspirator (Sugeng Hariyono) yang telah merubah mindset warga Lampung tentang pentingnya membaca. Penghargaan diserahkan langsung oleh Rektor UT (Ir. Tian Belawati) didampingi Kepala UPBJJ-UT Bandar Lampung (Dr. Drs. Rustam, M.Pd).





Penghargaan ini diserahkan bersamaan dengan acara Upacara Penyerahan Ijazah Tahap II Tahun 2016 di Balai Krakatau, Kemiling, Bandar Lampung (Rabu, 19-10-2016). Dalam acara tersebut Sugeng Hariyono diberi waktu untuk menyampaikan sambutannya. Dalam sambutan, Sang Inspirator sempat meneteskan air mata sebagai wujud rasa syukurnya atas apresiasi yang diberikan UT kepadanya. Dalam sambutannya, tak banyak yang ia katakan. Ia hanya menyampaikan pengalaman singkatnya serta memberi sebuah pesan berupa kalimat yang dapat menginspirasi, "Kemampuan saya memang berbatas, namun semangat saya tiada batas".




Sugeng Hariyono menuturkan, dengan bantuan motor roda tiga ini dia bisa membawa buku lebih banyak dan aman dari cuaca terutama waktu hujan. " Kalau pakai motor seperti ini, untuk keliling lebih aman, terutama kalau hujan mas, soalnya buku-buku yang dimiliki Motorpustaka adalah hasil donasi dari teman-teman media sosial, individu maupun komunitas, jadi ini adalah amanah yg harus di jaga" ujar Sugeng.




Sugeng juga menambahkan, Kepedulian dari berbagai pihak sangat menentukan kegiatan menumbuhkembangkan minat baca masyarakat. "Sekarang ini yang sedikit terkendala adalah soal mahalnya pengiriman donasi buku, terutama pihak jasa Pos Indonesia maupun swasta. Karena banyak teman-teman dari luar sana mau berdonasi, dengan mahalnya ongkos kirim tersebut, Kadang mereka urung untuk mengirimkannya". Pungkas Sugeng.

 

No comments

Powered by Blogger.