PERSAMAAN AFI DAN PAK JOKOWI

PERSAMAAN AFI DAN PAK JOKOWI

by Iwan Balau*

Ribut masalah AFI. Benarkah ia plagiat atau menjiplak? Atau ia hanya menceritakan kembali sebuah karya tulis orang lain dengan gaya dan bahasa yang dia mau.

Saya mau membahasnya bukan masalah plagiat seorang AFI. Namun membahas bagaimana fenomena Afi di munculkan dengan gegap gempita.

Saya lebih tertarik mengamati kemunculan sosok AFI saat ini. Kemunculan AFI mengingatkan saya dengan sosok Jokowi. Bagaimana seorang Jokowi dimunculkan dari daerah kecil, Solo. Yang kemudian menghentak pemberitaan dalam negeri. Bahkan anak kecil saja sampai hapal nama Jokowi tanpa perlu ejaan lagi. Anak yang belum bisa membaca saja bisa hapal nama Jokowi saat sosok murah senyum namun mematikan itu nongol di layar televisi.

Kepopuleran Jokowi bukanlah hal yang lazim. Semua ke-beken-annya itu diraih melalui sebuah rencana dan skenario yang sangat brilian. Ada sutradara yang merancangnya sehingga ia bisa mendaki jenjang yang tinggi. Jangan tanya karena prestasi nama ia meroket, karena apabila prestasi yang di jadikan patokan..Jokowi kalah jauh dari Risma dan Ridwan Kamil saat itu. Dan bahan yang dianggap prestasi pun saat ini sudah tercium bahwa itu hanyalah sebuah skenario untuk menciptakan sebuah ikon baru. Contohnya mobil ESEMKA. Saat Jokowi ke Jakarta, nama Esemka pun hilang seiring ikon yang telah pergi. Karena diramaikan kembali, dengan terpaksa Esemka harus dijadikan kenyataan. Padahal dulu hanya sebagai batu loncatan.

Media, dana dan konsultan yang hebat dalam menaikkan sebuah nama. Didukung dengan masifnya pendukung yang tunduk pada satu suara, maka populer itu semudah membalikkan telapak tangan bagi dirinya.

Jokowi sudah berhasil, satu target telah tercapai. Selanjutnya apa?

IDEOLOGI

Itulah target berikutnya. Saya gak bisa bicara banyak disini karena akun ini sudah di incar. Yang jelas, kenaikkan Jokowi ini memberikan harapan pada ideologi liberal untuk tampil lebih berani. Jokowi naik karena dukungan para liberal. Gotong royong dan GOLLL...kekompakan mereka luar biasa. Persatuan mereka dalam memuluskan rencana liberalkan Indonesia memang buat kita geleng2 kepala. Hesteg apapun kalau mereka udah niat, akan jadi TRENDING TOPIC DUNIA.

Munculnya nama AFI dan viralnya tulisan AFI juga melalui peranan mereka. Saya lebih suka menyebut mereka dengan nama pasukan #Tuyul. Layaknya tuyul yang selalu ikuti perintah tuannya, begitu juga para tukang share tulisan AFI. Saat share sudah banyak, maka memancing para manusia latah untuk ikut serta dalam "pesta" share. Kalau gak ikutan trend, bukan latah namanya. Biar kekinian, walaupun tak paham apa yang di baca..minimal bagikan dulu.

AFI dimunculkan bukan karena kebetulan akan pemikiran dia melalui sebuah tulisan. Layaknya Jokowi tadi, prestasi bukanlah ukuran agar kita terkenal. Bodoh pun bisa beken asal sutradaranya handal. Demikian halnya dengan AFI. Bahan tulisan, Media pemberitaan serta undangan tokoh merupakan skenario agar lancarnya sebuah tujuan. Beken kan nama AFI melalui masifnya pasukan tuyul dan dukungan media untuk memancing manusia latah tertarik dalam irama mereka.

Mengapa AFI usia sekolahan yang dijadikan objek? Siapa sasaran sebenarnya?

SASARANNYA ADALAH MEREKA USIA SEKOLAH YANG UMURNYA SAMA DENGAN AFI

Data rilis pengguna FB di Indonesia mencatat rekor tersendiri. Menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pengguna internet Indonesia saat ini adalah 88 juta orang. 71,5 juta orang aktif menggunakan FB. Dan pelajar memegang peranan penting dalam berkomunikasi dengan FB. Lebih dari 7 juta pelajar kita menggunakan FB. Dan lebih dari 22 juta usia muda 16-25 tahun menggunakan FB. Inilah sasaran yang mereka tuju. Menyasar usia sekolah dan usia muda melalui sosok seorang AFI.

Paham liberal yang ingin memisahkan agama dengan kehidupan yang kita jalani sangat masif dijalankan saat ini. Melalui tulisan, akan banyak kepala yang tertembak dari pada menggunakan peluru. Menyasar usia dewasa, liberal sudah tidak akan mampu lagi karena banyak penghadang disana. Sasar usia muda melalui pelajar dan anak muda yang aktif dalam menggunakan internet, khususnya FB. Memunculkan ikon dari kalangan mereka adalah jalannya.

AFI dijadikan objek perekrut dukungan dari kalangan pelajar dan pemuda. Melalui AFI para Islam liberal melancarkan serangannya. Viralkan AFI adalah jalanya, buat semua anak muda ingin seperti AFI. Terkenal, diundang ke stasiun tv dan esok mungkin AFI akan ada acara makan dengan presiden Jokowi di istana. Coba, anak muda mana yang tidak ingin seperti AFI? Anak muda mana yang tidak iri pada AFI? Anak muda mana yang tidak tertarik membaca tulisan AFI saat ia terkenal saat ini? Coba tes secara random, ambil 10 orang pelajar. Coba wawancara mereka dengan satu pertanyaan:

"Kenalkah mereka dengan AFI sang penulis yang terkenal dengan tulisan warisan?"

8 dari 10 anak akan menjawab kenal atau tau dan pernah membaca tulisannya. Sama dengan anak-anak SD saat ditanya kenalkah dengan Jokowi saat tahun 2012 dulu. Anak SD itu akan menjawab "KENAL....kurus, tinggi dan murah senyum orangnya".

Anak-anak usia muda tidak akan berpikir tajam dalam menelaah sebuah tulisan. Asal tulisan itu viral dan banyak share, maka mereka anggap apa yang ditulis adalah sebuah kebenaran dan patut di oercayai. Sejuk dan tidak ribet adalah gaya yang mereka mau. Dan para pejuang Islam liberal sangat paham kondisi, mereka telah mulai berperang dalam menanamkan IDEOLOGI ISLAM LIBERAL pada anak-anak kita melalui seorang remaja AFI yang sejatinya tidak tau apa-apa. Dia tidak tau dimanfaatkan. Dia terlena akan kepopuleran dan tenarnya sebuah karya tulisan. Selagi tombol like dan share masih berfungsi, Ia akan merasa apa yang ditulisnya banyak yang suka. Dan ia tidak akan berhenti. Karena yang suka makin banyak.

Pasukan tuyul memang paten bukan?

Menulislah teman..walaupun hanya 1-2 paragraf, Lawanlah pemikiran Islam liberal. Beritakan pada mereka bahwa kita akan hadang mereka. Beritakan pada mereka bahwa anak-anak kita mempunyai benteng yang tangguh.

Berjuanglah demi anak-anak kita..dan demi bangsa ini. Topeng mereka hanya kita yang tau, namun pelajar dan pemuda diluar sana masih belum tau apa dibalik topeng yang mereka pakai.

Berjuanglah...berjuanglah..berjuanglah.

5 tahun akan kita lewati karena diamnya kita memilih pemimpin, Jadikan itu cerminan.

*Sumber: fb penulis

No comments

Powered by Blogger.