Percayakah dengan Hasil Survei LSI

Jabungonline.com – Sejak LSI Deny JA ini mempublikasikan “hasil survei” elektabiltas Pasangan Capres-Wacapres di medsos, 20 Agustus 2018, sejumlah teman japri minta saya menanggapi kebenaran hasil survei ini.


Perlu diketahui, hanya LSI Denny JA yang sangat cepat dan sudah buat survei setelah deklarasi Capres-Wacapres 10 Agustus lalu. Akhirnya saya mencoba memenuhi permintaan japri tersebut. Inilah tanggapan saya:

Hasil survei LSI Denny JA ini TAK MASUK AKAL alias palsu dan sangat mungkin berbohong secara metodologis karena:

1. Waktu pengumpulan data sejak deklarasi Capres-Cawapres hanya 7-8 hari atau sekitar seminggu. Secara metodologis, masih ada kegiatan kompilasi data dan analisis data. Jika survei benar, masih dibutuhkan sekian hari untuk survei 20 % terhadap responden terpilih untuk cheking kebenaran kerja Tim Surveyor di lapangan. Seminggu pasti tidak cukup waktu memenuhi syarat metodologis untuk survei opini publik atau polling nasional. Jadi, Mustahil! Kecuali dikerjakan hanya di kamar komputer sendirian, alias fiksi.

2. LSI ini ngakunya waktu survei pada akhir Agustus. Padahal kini baru tanggal 20, belum akhir Agustus. Mustahil lagi.


3. Pada Mei 2018 LSI ini klaim telah survei dgn hasil elektabilitas Jokowi 46%. Lalu, Juli 2018 klaim buat lagi survei: elektabilitas Jokowi naik lagi menjadi 49,30 %. Kini 20 Agustus umumkan naik lagi menjadi 52,2 %. Sangat unik dan tak lazim karena kebanyakan lembaga survei klaim, selama 2018 elektabilitas Joko terus menurun hingga di bawah 40%.

Sementara, Litbang Kompas klaim, elektabilitas Jokowi justru menaik (sama dgn LSI), dari 42,5 % (April 2015) ke 55,9 % (April 2018).

Dari sejumlah survei, hanya 2 lembaga ini klaim, elektabilitas Jokowi meningkat dan di atas 45 % yakni LSI Denny dan Litbang Kompas. Hanya dua lembaga itu berani klaim, elektabilitas Jokowi meningkat.

Tiba-tiba kini elektabilitas Jokowi sudah 52,2 % versi LSI. Artinya, ada kontribusi Ma’ruf Amin selaku Cawapres Jokowi sekitar 2%. Padahal pengaruh Ma’ruf terhadap kenaikan elektabilitas Jokowi sangat kecil, jika tak boleh dinilai tidak ada karena “jeruk makan jeruk” pilih Ma’ruf jadi Cawapres Jokowi. Hasil polling sejumlah lembaga via medsos Jokowi-Ma’ruf segera setelah deklarasi membuktikan hal itu.

Lalu, darimana datang angka 52,2 % itu? Sangat mungkin dari Penulis Hasil Survei LSI itu sendiri. (swa)

 

Oleh: Muchtar Effendi Harahap*

No comments

Powered by Blogger.