Bendera Tauhid: Antara Banser dan Mush’ab bin Umair



Jabung Online - Entah apa yang Rasulullah SAW rasakan jika saat ini masih hidup. Menyaksikan sehelai kain bertuliskan Allah dan dirinya bagai benda najis, dibakar di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sementara, lebih dari 1.400 tahun silam, beliau melihat langsung heroisme Mush’ab bin Umair mempertahankan bendera hingga titik darah penghabisan di medan Uhud.


Uhud bergolak pada tahun ketiga Hijriah. Di tengah perang yang berkecamuk, terlihat Mush’ab bin Umair tanpa kedua tangan. Darah bersimbah di sekujur tubuhnya. Dengan hanya lengan yang tersisa, dia berjuang mempertahankan Bendera Tauhid agar tak jatuh ke tangan kafir Quraisy.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…! Pekiknya dengan lantang.

Pria yang dikenal juga sebagai duta Islam pertama itu diamanahi membawa Panji Islam bertuliskan La Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Warnanya hitam. Kita mengenalnya dengan nama Ar Rayyah.

Saat itu situasi genting terjadi. Pasalnya pasukan pemanah yang berada di atas bukit tergoda ghanimah dan melupakan perintah Nabi Muhammad SAW untuk tidak turun.

Mush’ab lalu mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh.

Dia melakukan itu untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah. Dengan menunggang kuda, dia lalu menebas tangan kanan Mush’ab hingga putus.

Mush’ab berteriak, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Lalu Mush’ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh kemudian menebas tangan kirinya hingga putus pula.

Tak ingin Panji Tauhid jatuh, Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap,”Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Musuh kemudian menyerang Mush’ab ketiga kali dengan tombak. Menusukkannya hingga tombak patah. Mush’ab pun gugur, dan Bendera Tauhid jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Usai perang, Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, Rasulullah SAW tak kuasa menahan tangis. Air mata menganak sungai dengan deras.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasad Mush’ab selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!”

Sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah SAW berkata, “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!”

Lebih dari 1.400 an tahun yang lalu kisah ini terjadi. Fakta. Bukan dongeng. Kini, kebalikan dari peristiwa heroik itu terjadi di bumi Indonesia. Bendera Tauhid dibakar di sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Wajah-wajah para pembakar Ar-Rayyah terlihat bahagia. Bergembira dengan apa yang dilakukannya. Tepat di Hari Santri di sebuah sudut Garut, Jawa Barat, Ahad kemarin.

Mereka seperti makhluk amnesia sejarah. Lupa atau mungkin sengaja melupakan bagaimana seorang Mush’ab bin Umair dengan gigih mempertahankan Bendera Tauhid saat kedua tangannya tak lagi ada di tubuhnya.

No comments

Powered by Blogger.