Asal Usul Suku Marga Sekampung Libo (Jabung) [Part-2]

Oleh : Abu Bakar S.Pd., MM. Pd. *

Sekitar tahun 1550 pada zaman PUYANG SERUNTING merantaulah beberapa anggota keluarga yang masing-masing berasal dari SEKALO BERAK dan sebagian berasal dari daerah NEGERI BATIN Tulang Bawang. Rombongan tersebut dipimpin oleh seorang putra SUTTAN GURU yang bernama PESIWO BATIN (Buai Pemuko). Menurut cerita tua-tua kampung bahwa Pesiwo Batin merupakan putra seorang Suttan yang tinggal di daerah Sekala Berak di Lereng Bukit Pesagi yang sekarang berada di daerah Kabupaten Lampung Barat. Bersama rombongan tersebut juga ikut serta beberapa putra beliau yang bernama INGGO DILAWI,KEMAS DIRAJO,TARING BELAWAN serta saudara iparnya yang sakti, yang bernama RADIN JIMAT (berasal dari Tulang Bawang) yang merupakan buai Berugo. Rombongan yang dipimpin oleh Pesiwo Batin tersebut terdiri dua kebuaian yaitu buai Pemuko dan Buai Berugo sekitar 17 orang. Dengan bermodalkan alat rakit (rumah rakit yang terbuat dari bambu) dan perbekalan seadanya mereka berangkat meninggalkan sebuah pedukuhan daerah Sekalo Berak. Mereka berlayar menyelusuri kali/way sekampung menuju daerah jawa Banten. Sesampainya di Banten pimpinan rombongan langsung menghadap Raja Banten yaitu Sultan Maulana Hasanudin, untuk menyampaikan niat mereka untuk diberi tempat/daerah yang dapat ditempati oleh mereka serombongan. PESIWO BATIN langsung diterima oleh SULTAN MAULANA HASANUDIN dengan baik. Niat mereka dikabulkan oleh Sultan Maulana Hasanudin asalkan membayar uang pangestu sebesar 40 real. Oleh ketua rombongan persyaratan itu disanggupi. Permohonan mereka serombongan dikabulkan dan diberi tempat di daerah PENGABUAN (sekarang Cikoneng) bagian Anyar Lor.

Setelah mereka menempati daerah Pengabuan Anyar Lor Sultan Maulana Hasanudin memberikan gelar/bujenong diantara mereka. Adapun mereka yang diberi gelar/ bujenong adalah sebagai berikut :

1. Pesiwo Batin diberi gelar Sunan.
2. Raden Jimat diberi gelar Pangeran Ratu Dilampung.
3. Inggo Dilawi diberi gelar Temenggung Jawo Dilampung (terkenal dengan temenggung Putak).

Sedangkan putra Sunan yang bergelar Kemas Dirajo dan Taring Belawan tidak bujenong untuk menggantikan gelar mereka. 

Setelah beberapa tahun (sekitar 4 tahunan) bertempat tinggal di daerah Pengabuan, rombongan Sunan merasakan tempat tersebut kurang subur sehingga kurang menghasilkan. Oleh karena itu Sunan/Pesiwo Batin yang ke sekian kalinya menghadap Sultan Maulana Hasanudin untuk mengajukan permohonan agar mereka serombongan diizinkan kembali ke daerah Lampung, terutama di daerah sekitar sungai sekampung/kuala. Usulan Sunan serombongan tersebut diterima dan dibenarkan oleh Sultan Maulana Hasanudin asalkan membayar uang pangestu/restu Sebanyak 80 real. Persyaratan tersebut disanggupi oleh Sunan dan rombongan yang lainnya. Selanjutnya Sultan Maulana Hasanudin memerintahkan beberapa Penekawannya/para ekpedisinya untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Mengadakan peninjauan ke daerah Lampung terutama daerah kuala sekampung dan sekitarnya(sekitar kuala blukang kearah udik).
  2. Memberitahukan kepada penduduk yang ada sekitar suangai sekampung bahwa daerah yang dimaksud telah diserahkan Sultan kepada Sunan serombongan (buai pemuko).
  3. Agar penduduk yang ada mengosongkan daerah kuala sekampung kearah udik tersebut untuk penempatan penduduk yang baru (buai pemuko).
  4. Menetapkan batas-batas daerah tersebut dengan tetangga kanan kiri yang ada.
Berdasarkan perintah Sultan Maulana Hasanudin tersebut maka berangkatlah penekawan-penekawan Sultan dengan diikuti oleh dua orang perwakilan utusan Sunan yang mewakili rombongan Buai Pemuko. Dua orang utusan Sunan tersebut diperkirakan adalah Pangeran Ugor Dilampung dan Temenggung Jawa Dilampung. Dengan menggunakan sampan/perahu rombongan penekawan sultan dan perwakilan Sunan berangkat ke daerah Lampungt terutama daerah sekitar sungai sekampung.Sesampainya mereka di daerah yang dituju yaitu Kuala Sekampung maka mulailah melakukan pengecekan-pengecekan terhadap warga yang telah ada di daerah tersebut. Setelah melakukan pengecekan, utusan Sultan bersama perwakilan Sunan menemukan sekelompok penduduk yang telah bertempat tinggal di daerah sekitar kuala sekampung, mereka mengaku berasal dari :
  1. Buai Aji.
  2. Buai Teladas (berasal dari Ranau).
  3. Buai Bugis (Sulawesi).
Para utusan Sultan menyampaikan kepada mereka bahwa daerah tersebut telah diserahkan oleh Sultan Maulana Hasanudin kepada rombongan Buai Pemuko. Ketiga kebuaian tersebut menyatakan tidak bersedia pindah dari tempat yang telah mereka tempati, tetapi mereka bersedia untuk ikut serta dan memetauhi apapun ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Buai Pemuko Bumi.

Setelah semua urusan dengan ketiga kebuaian tersebut selesai maka para utusan meneruskan perjalanan kearah udik wilayah seputih rimbih. Ditempat ini mereka juga menemukan sekelompok penduduk. Setelah diadakan pengecekan ternyata mereka mengaku berasal dari kebuaian :
  1. Buai Miga Putih dan,
  2. Buai Unyi/Unyai.
Mereka inipun juga diberitahu bahwa daerah ini telah diserahkan Sultan Maulana Hasanudin kepada Buai Pemuko Bumi. Mereka juga sepaham dengan Buai Aji,Buai Teladas dan buai Bugis yaitu siap mematuhi dan mengikuti apapun peraturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Buai Pemuko Bumi. 

Kemudian rombongan Penekawan Sulatan dan utusan Sunan melanjutkan perjalanan ke udik berikutnya menyelusuri kali sekampung. Dalam perjalanan ini para utusan juga menemukan suatu tempat yang bernama Sirkulo/srakulo.Tempat ini merupakan suatu tempat yang dipimpin oleh Minak Rajo Jalan yang berasal dari keturunan Keratuan Pugung. Daerah ini merupakan tempat dilahirkannya putra Fatahilah Sultan Banten atas perkawinannya dengan putri keturunan keratuan Pugung yaitu :
  1. Ratu Melinting.
  2. Ratu Darah Putih (kala itu telah pindah ke daerah Kalianda Dataran Ratu/Lukah).
Daerah Sirkulo ini pada masa itu dipimpin oleh seorang yang bernama Minak Rajo Jalan dan saudaranya yang bernama Lepat Lubuk Kaco. Minak Rajo Jalan ini mempunyai Istana yang merupakan benteng pemerintahannya di daerah Sirkulo/Srakulo. Minak Rajo Jalan mempunyai seorang putri yang cantik bernama Kandang Rarang. Begitu juga adiknya Lepat Lubuk Kaco mempunyai seorang putri yang juga cantik bernama Sinar Alam. Menurut cerita tua tua kampung kedua putri kakak beradik ini dinikahi oleh Fatahilah.

Dari pernikahan tersebut lahirlah anak dari masing-masing kedua putri tersebut.Putri Kandang Rarang melahirkan anak (tidak jelas namanya) yang mendirikan keratuan Melinting. Sedangkan putri Sinar Alam melahirkan anak yang bernama Hurairi. Setelah dewasa bernama Haji Muhammad Zaka Waliyullah dan sebagai pendiri Keraatuan Darah Putih dengan gelar Minak Kejala Ratu. Tempat ini selanjutnya digunakan oleh para utusan Sultan dan perwakilan Sunan sebagai tempat membicarakan tujuan perjalanan mereka menyelusuri kali/way sekampung ini.

Pada pertemuan ini juga disampaikan oleh para utusan kepada Minak Rajo Jalan bahwa mereka diutus oleh Sultan Maulana Hasanudin :
  1. Untuk melakukan peninjauan kedaerah Lampung yaitu kuala sekampung dan sekitarnya kearah udik.
  2. Untuk memberitahukan kepada penduduk bahwa daerah ini telah diserahkan Sultan Maulana Hasanudin kepada Buai Pemuko.
  3. Untuk mengosongkan daerah tersebut dari penduduk yang lama dan menempatkan penduduk yang baru serta menetapkan batas-batas dengan daerah tetangganya.
Setelah mendengarkan informasi yang disampaikan oleh para utusan Sultan dan Sunan tersebut maka Minak Rajo Jalan menerimanya dengan baik dan bersedia meninggalkan tempat yang telah ditetapkan oleh para utusan tersebut. Selanjutnya para utusan juga meminta kepada Minak Rajo Jalan untuk menyampaikan berita ini kepada para penghuni benteng menawano (sekarang periki Jabung) yang dipimpin oleh seorang Ratu yaitu Ratu Melinting. Hal ini juga disanggupi oleh Minak Rajo Jalan untuk disampaikan kepada yang bersangkutan. Setelah semua dianggap selesai maka para utusan Sultan dan Sunan meneruskan perjalanan kearah timur melewati kawasan tegal melinting menuju kearah Mumbangan (sekarang Mumbangjaya). Ditempat ini para utusan Sultan dan Sunan juga menemukan benteng pertahanan (sekarang Bentengsari) yang dihuni oleh seorang Ratu (yang julukannya Ratu salah perintah). Kepada para penghuni benteng ini juga disampaikan maksud kedatangan mereka ke daerah Lampung khususnya daerah kuala sekampung kearah udik, bahwa daerah ini telah diserahkan Sultan kepada Buai Pemuko. Setelah menerima berita tersebut maka mereka bersedia meninggalkan daerah yang telah mereka tempati.

Adapun perpindahan mereka adalah sebagai berikut :
  1. Minak Rajo Jalan beserta rombongannya meninggalkan daerah Sirkulo menuju tempat yang baru kearah udik yaitu sekampung/Gedong Wani. Namun sebelum Minak Rajo Jalan meninggalkan daerah Sirkulo beliau meninggal dunia dan dimakamkan didaerah sirkulo (sekarang Negara Saka) hingga sekarang terkenal dengan nama kramat Minak Rajo Jalan. Perpindahan mereka dipimpin oleh adiknya yang bernama Lepat Lubuk Kaco.
  2. Kelompok Ratu Dilampung/Ratu Melinting beserta rombongan meninggalkan daerah benteng menawano menuju daerah Labuhan Maringgai.
  3. Kelompok Ratu salah perintah dan para pengikutnya meninggalkan daerah mumbangan menuju daerah Jawa. Ratu ini pun juga meninggal dunia sebelum meninggalkan daerah Mumbangan dan dimakamkan di daerah tersebut. Hingga sekarang terkenal dengan nama makam kramat Ratu Salah Perintah.
  4. Kelompok Ratu Darah Putih memang telah meninggalkan daerah sirkulo menuju daerah dataran ratu/lukah (Kalianda) sebelum dilakukan penertiban oleh para utusan Sultan dan perwakilan Sunan.
Setelah selesai melakukan pengosongan dan penertiban penduduk, selanjutnya para utusan Sultan dan perwakilan Sunan tersebut mulai melakukan penertiban masalah batas-batas daerah yang akan diserahkan kepada Buai Pemuko Bumi. Setelah ada kesepakatan antara utusan Sultan dan perwakilan Sunan maka dilakukan penetapan batas-batas wilayah yang akan ditempati oleh para Buai Pemuko Bumi.

Adapun batas-batas daerah yang diserahkan oleh Sultan Maulana Hasanudin kepada Buai Pemuko adalah sebagai berikut : 
  1. Perbatasan dengan Marga Melinting adalah dari arah laut dimulai dari kuala nyelai dan nyelai lunik (antara Karyatani dengan Pasir Sakti) menuju ulu wai tubo lewat lebung sekampung (dan keluar antara kampung Negeri Agung dan kampung Gunung Sugih Kecil sekarang) terus membelah dua gunung urai turun ke wai itik rendai kemudian memutar kearah siring baning(sekarang daerah Sukorahayu Wana ).
  2. Perbatasan dengan Marga Sekampung adalah dimulai dari batu pengajar kearah barat menuju wai muara cekang (antara kampung Batu Badak dengan Bungkuk) kemudian menuju arah seberang kali sekampung dan berakhir di pematang samang handak/wai sulan( sekarang Ngestikarya Wawai Kaya).
  3. Perbatasan dengan Marga Ketibung adalah dimulai dari beringin jajar terus kearah siring rallom wai buho (sekarang Sidomulyo).
  4. Perbatasan dengan Marga Dataran Ratu/Kalianda adalah mulai dari pulau anau terus kearah wai pisang belop kemudian menuju arah kuala Sekampung.
Demikianlah batas-batas yang telah ditetapkan oleh para Penekawan Sultan. Setelah selesai penetapan batas-batas dengan Melinting, Sekampung, Ketibung dan batas dengan Ratu Darah Putih, sedikit terjadi protes dari Bandar Melinting dan Bandar Sekampung. Karena menurut kedua Bandar adat yang berkuasa di daerah tersebut pada waktu itu, merasa bahwa daerah yang telah ditetapkan oleh para penekawan Sultan dan utusan Sunan untuk diberikan kepada Buai Pemuko Bumi terlalu luas. Namun setelah dijelaskan secara arif dan bijaksana oleh para Penekawan Sultan bahwa walaupun daerahnya luas tetapi didalamnya terdapat batu pengajar, alang-alang dan rawa- rawa. Atas penjelasan para Penekawan Sultan tersebut maka reda dan legalah hati Bandar Melinting dan Bandar Sekampung. Perbatasan tersebut mulai berlaku sejak ditetapkan oleh para Penekawan Sultan hingga datangnya kaum kompeni Belanda di daerah ini.


* Laki-laki asli kelahiran Jabung,
Orang tua dari 4 orang putra juga pengajar
di Sekolah Negeri di Kecamatan Jabung.
No Hp. 085269856004

Bersambung .....[Part 3]

3 comments

Unknown said...

Terimo kasih nayah mamak atas infonya.. tabikpun..

Unknown said...

Terimo kasih nayah mamak atas infonya.. tabikpun..

Unknown said...

cerito kk nyacau.. bak rombongan jak jabung angik temon temon ngusir kratauan melinting..adu goh ngayun manuk tandak..

jujur gwh lom sejarah.. Ulun melinting Asahan pannai unyin mon jabung asalna anjak negara batin way kanan.. surat sai nyeritoko Kriyo alom pudak waktu kilu ijin gebatton tiyuh jabung gwh pagun wat tungguk tano di kratuan melinting..

ho nyawoko buway pemuko pati.. tano kk buway pemuko bumi.. Awas tulahan jamo sai teho² trutamo buway pemuko..

Powered by Blogger.