Ketika PRD belajar dari PKS


Kongres PRD ke-8, Ketua Umum PRD Agus Jabo Priyono (ke-2 dari kiri) [foto: Liputan6]

Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Soeripto hadir dalam kongres nasional Partai Rakyat Demokratik (PRD), Rabu (25/3). Soeripto diundang sebagai pembicara dalam kapasitasnya sebagai pengamat intelejen. Namun, sebagai anggota Syuro dari partai Islam yang berbasis kader, peserta kongres PRD ingin belajar bagaimana membesarkan parpol yang basisnya kader.

Dalam paparannya, Soeripto mengatakan kesan yang ditangkapnya saat menghadiri kongres nasional PRD adalah kader yang ingin berjuang untuk rakyat. Menurut Soeripto, PRD jangan dilihat dari masa lalunya, namun harus dilihat ke masa depannya untuk ikut membangun bangsa. Pernyataan ini seperti mengingatkan PRD sebagai sebuah parpol, pernah dicap sebagai jelmaan paham komunis.

“Saya, meskipun di PKS, akan buka tangan selebar-lebarnya untuk PRD,” kata dia di hadapan peserta kongres nasional PRD di Hotel Acacia, Rabu (25/3).

Soeripto berpesan pada seluruh kader PRD, kalau ingin berkuasa, jalannya adalah lewat parlementer. Jalan itu harus dilalui dengan memenuhi syarat untuk menjadi parpol yang dapat mengikuti pemilu. Setelah mampu eksis dalam pemilu, PKS maupun PRD dapat bekerjasama untuk membangun bangsa Indonesia. 

Namun, pakar intelejen itu mengingatkan PRD harus mulai menyiapkan strategi pemenangan pemilu 2019. Harus mampu menganalisa kondisi di luar organisasi. Yaitu, kader-kader PRD harus mampu berpikir secara linier dan non-linier sekaligus. 

“Linier adalah target pemilu 2019, non-linier misalnya rupiah sekarang anjlok 19 ribu, apa yang akan PRD lakukan,” kata politikus PKS ini.[ROL]

No comments

Powered by Blogger.