Asal Usul Suku Marga Sekampung Libo (Jabung) [Part-4]

Oleh : Abu Bakar S.Pd., MM. Pd. *

Selanjutnya Putak dipimpin oleh Temenggung Jawo Dilampung/Inggo Dilawi. Pada masa pemerintahan Temenggung Jawo Dilampung warga Putak membuka usaha diseberang kali sekampung hingga ke Itik Rendai (sekarang daerah perbatasan dengan Wana/Melinting). Selain itu pada masa kepemimpinan beliau Putak juga pernah mengalami musibah kebakaran kampung. Menurut cerita tua-tua kampung kebakaran tersebut disebabkan masyarakat Putak memanggang daging ikan pelus. Ikan pelus tersebut diperoleh dari buruan masyarakat atas binatang yang telah meresahkan mereka. Konon ceritanya ikan pelus tersebut sangat besar yang datangnya dari sebuah lubang dipinggir sungai sekampung (hingga saat ini lubang tersebut dikenal sebagai kiyam tummukan/ lubang pelus). Binatang ini selalu memangsa ternak masyarakat bahkan sampai manusia sebagai korbannya. Segala cara dilakukan oleh penduduk Putak untuk menangkap binatang yang selalu meresahkan masyarakat tersebut. Akhirnya usaha mereka tidak sia-sia dan binatang tersebut tertangkap. Setelah tertangkap ternyata binatang tersebut benar seekor pelus yang besar. Selanjutnya daging ikan pelus tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat untuk dimakan. Masyarakat yang telah mendapat bagian lalu memanggangnya dan ikan tersebut mengeluarkan minyak yang banyak sehingga menyulut api hingga kebakaran. Dengan seketika itulah perkampungan Putak terbakar dan habislah harta benda penduduk termasuk catatan penting dari Skala Berak. Sejak kebakaran itulah maka terputuslah hubungan sejarah antara warga Putak dengan kampung asal mereka yang ada di Sekalo Berak. Setelah terjadinya musibah kebakaran tersebut perkampungan Putak pindah bergeser kearah selatan sekitar 500m dari kampung semula namun masih wilayah Putak hingga akhirnya pindah ke Umbul Jabung. Tanpa diketahui dengan jelas tahun berapa Temenggung Jawa Dilampung meninggal dunia. Beliau dimakamkan di daerah Putak, hingga saat ini terkenal dengan kramat Temenggung Putak. Berdasarkan cerita dan catatan tua-tua kampung, Putak selanjutnya dipimpin oleh kariyo Ilo Dirajo yang kedua yang merupakan keturunan Radin Jimat alias Pangeran Ugor Dilampung hingga tahun 1806. 

Sekitar tahun 1806 kompeni Belanda mulai menjamah daerah Putak. Kedatangan kompeni Belanda kedaerah Putak konon ceritanya dibawa oleh Kariyo Ilo Dirajo kedua sebagai pimpinan daerah Putak waktu itu. Pada tahun 1806 itu juga Belanda bersama Kariyo Ilo Dirajo langsung menunjuk dan mengangkat Pangeran Alip sebagai kepala kampung Putak yang pertama. Pangeran Alip selaku kepala Kampung selanjutnya mulai melakukan penertiban dan penataan adat istiadat Lampung di Putak. Karena di daerah Putak terdiri dari beberapa macam kebuaian dan masing-masing kebuaian tersebut telah ada penggawanya maka bersidanglah penggawa 12 tersebut bersama Kepala kampung untuk membahas masalah adat istiadat.

Pangeran Alip selaku kepala kampung Putak bersama 12 penggawa yang ada melakukan perubahan-perubahan. Selanjutnya mereka sepakat untuk merombak adat istiadat dari masing-masing kebuaian dengan cara dan gaya baru untuk dijadikan tata titi adat yang melambangkan keseragaman dari beberapa kebuaian yang ada ( akan dibahas pada tahap berikutnya).

Selain membicarakan masalah adat istiadat Pangeran Alip dan para penggawa 12 juga membahas masalah penempatan masing-masing penggawa. Adapun keputusan mengenai daerah penempatan para penggawa 12 adalah sebagai berikut : 
  1. Dari arah selatan daerah Putih Rimbih ditempatkan Buai Miga Putih dan Buai Unyi/uyai.
  2. Dari arah utara daerah Batu Ketetuk ditempatkan Buai Aji dan Buai Teladas.
  3. Ditengah-tengah daerah Putak ditempatkan Buai Pemuko, Buai Subing, Buai Metaro, buai Bungo mayang, Buai berugo,Buai Selagai,Buai Bugis, dan Buai Cempako. 
Demikianlah pembagian wilayah untuk masing-masing penggawa yang tergabung dalam satu kesatuan adat Buai Pemuko.

Pada saat itu perkembangan pemerintahan Kompeni telah berkembang dan semakin berpengaruh terhadap masyarakat khususnya di wilayah Putak dan Indonesia pada umumnya. Pemerintahan Kompeni telah memerintahkan kepada masyarakat yang ada di Putak agar pindah keseberang kali sekampung. Hal tersebut dimaksudkan agar pemerintah Kompeni mudah mengawasi atau mengontrol masyarakat yang ada di kampung Putak. 

Kira-kira tahun 1810 penduduk yang ada di kampung Putak pindah ke daerah seberang kali sekampung sesuai dengan yang diperintahkan oleh pemerintah kompeni Belanda. Selanjutnya menetaplah empat kebuaian di umbul Jabung (sekarang Jabung). Adapun empat kebuaian tersebut adalah : 
  1. Buai Pemuko, 
  2. Buai Subing,
  3. Buai Metaro dan
  4. Buai Bungo Mayang. 
Empat kebuaian ini memberi nama tempat mereka Tiyuh Jabung. Kata

Jabung diambil dari sebuah nama tumbuh-tumbuhan sejenis lengkuas. Tumbuhan ini daunnya terasa agak asam yang sangat cocok dipakai sebagai bumbu sruit/sayur ikan. Kala itu tumbuhan Jabung ini banyak terdapat disekitaran sungai sekampung hingga arah atas dimana mereka mendirikan rumah penduduk.

Pada awalnya penduduk Kampung Jabung terdiri dari 4 penggawa/penyimbang bumi yang mewakili dari 4 kebuaian. Hingga saat ini desa Jabung telah berkembang menjadi 29 penyimbang adat. Adapun ke 29 penyimbang tersebut antara lain :
  1. Batin Paksi Muso/Dalom Tihang Abuhusin
  2. Rajo Tihang/Pangeran Pukuk Agus
  3. Tuan Rajo Kasim/Pangeran Putcak Abdul Manan
  4. Batin Kiyai Temunggung/Dalom Kiyai Rahman
  5. Dalom Sebuai Sawal
  6. Nyimbang Ratu Bakar/Batin Sukodio Yahudi
  7. Batin Serobumi/Hi. Abdul Hamid
  8. Dalom Nguaso Bumi/Temenggung Muhyin
  9. Dulu Batin/Dalom Kiyai Mus
  10. Batin Kiyai Kundo/Dalom Kiyai Senin
  11. Dalom Yakup/Minak Muttor Mus
  12. Nyimbang Alam Rahman/Terujungan Ahmad
  13. Minak Cahyo/Dalom Sampurna Jayo Usup
  14. Minak Batin Husin/Minak Mas Syamsudin
  15. Batin Terus Jagan/Minak Batin Azis
  16. Dalom Penyimbang Maram/Radin Sawan Ani
  17. Temenggung Husin/Temunggung Husin
  18. Dalom Paksi Yusup/Karyo Jayo Kesumo Majid
  19. Dalom Jati/Dalom Jati Bidin
  20. Minak Mas Sebih/Minak Mas Mursalin
  21. Tuan Rajo Mail/ Batin Palo Migo Mukti
  22. Rajo Mudo Adam/Rajo Mudo Ismail
  23. Pangeran Ulangan Usup/Minak Radin Hasan
  24. Tiawan Talip/Dugor Mus
  25. Radin Sangun/Muko Sakti Mis
  26. Batin Kiyai Salih/Dalom Gamo Abdul Halim
  27. Gedung Alam Rahman/Batin Sekenak Dalim
  28. Minak Kunang Unus/Batin Sukodio Sukri
  29. Dalom Summan /Sannaran Ali (sumber : Bpk Minak Sumo Mail)
Sedangkan perkembangan kepemimpinan pemerintahan desa telah terjadi 27 kali pergantian kepala kampung/desa. Kampung Putak merupakan kampung yang pertama kali mempunyai kepala kampung. Putak merupakan pusat pemerintahan desa yang pertama kali dibentuk oleh kompeni Belanda untuk wilayah sekampung Libo pada tahun 1806. Dari tahun ketahun Putak mengalami kemajuan sampai pemerintahan desa pindah ke seberang kali sekampung yaitu di Kampung Jabung. Jabung selanjutnya sebagai sentral pemerintahan pada masa kompeni Belanda yang membawahi 12 penggawa adat yang ada sampai masing-masing daerah mereka mempunyai kepala desa.Pangeran Alip meninggal dunia sekitar awal tahun 1810 sebelum warga Putak pindah ke seberang kali sekampung yaitu di Jabung.Beliau dimakamkan di kampung Putak dekat dengan makam para sesepuh Putak lainnya. Selanjutnya kepala kampung Jabung digantikan oleh Rajo Mangku Alam ke I .Adapun pergantian kepala kampung Jabung adalah sebagai berikut :
  1. Pangeran Alip tahun 1806-1810 (di daerah Putak)
  2. Rajo Mangku Alam I tahun 1810-1825 (di Jabung dan seterusnya)
  3. Rajo Tihang tahun 1825-1835
  4. Rajo Mangku Alam II 1835-1855
  5. Hi. Muhammad Soheh tahun 1855-1865
  6. Hi. Muhammad Ali tahun 1863-1883
  7. Hi. Husin tahun 1883-1908
  8. Karban tahun 1908-1911
  9. Kiyai Temunggung tahun 1911-1921
  10. Raden Tulin tahun 1921-1938
  11. Malo Batin Umar tahun 1938-1942
  12. Pangeran Tihang Marga tahun 1942-1943
  13. Batin Pangeran Sudin tahun 1943-1949
  14. Batin Alam Abas tahun 1949-1952
  15. Dalom Seman tahun 1952-1964
  16. Raden Bangsawan Abdullah tahun 1964-1966
  17. Batin Sampurnajaya Sulaiman tahun 1966-1970
  18. Raden Kemas Hasan tahun 1970-1980
  19. Batin Rajosako Usup tahun 1980-1981
  20. Faidullah tahun 1981-1982
  21. Radin Panji Burhanudin tahun 1982-1986
  22. Sukuria Kusuma tahun 1986-1994
  23. Minak Rayo Saleh tahun 1994-1995
  24. Sukuria Kusuma tahun 1995-2003
  25. Minak Mas Mursalin bulan Maret 2003
  26. Temunggung Muhammad Saleh tahun 2003-2011/sekarang

(sumber : Bpk Kariyo Jayo Kesumo Majid Yusup)

Kemudian empat kebuaian berikutnya adalah :
  1. Buai Berugo,
  2. Buai Selagai,
  3. Buai Bugis dan
  4. Buai Cempako 
Empat kebuaian ini juga ikut pindah keseberang kali sekampung. Namun empat kebuaian ini memilih bertempat di maro mas/muara emas(sebagai cikal bakal desa Negara Batin sekarang). Selanjutnya empat kebuaian ini memberi nama tempat mereka dengan sebutan Rabatin. Setelah cukup lama bertempat tinggal di Rabatin maka oleh empat kebuaian tersebut merobah Rabatin menjadi Negara Batin. Nama Negara Batin sesuai dengan nama asli dari daerah Tulang Bawang, sebagai daearh asal Radin Jimat/Pangeran Ugor Dilampung . Empat kebuaian yang ada di kampung Negara Batin dari tahun ketahun juga mengalami perkembangan hingga saat ini menjadi 23 Penyimbang adat. Adapun ke 23 penyimbang adat tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Pangeran Ugor Dilampung 
  2. Dalom Sangun/Tuan Radin Umar
  3. Batin Tinggi/Terujungan Saleh
  4. Pangeran Ratu Sangun/Temunggung Husin
  5. Pangeran Paksi/Pangeran Syamsudin
  6. Dalom Bandar/Dalom Yahya
  7. Minak Batin Maat/Minak Mas Tayib
  8. Radin Bangsaratu/Dalom Pangeran Mawan
  9. Temunggung Dul/Dalom Yudi Ismo
  10. Pangeran Rajo Lamo/Dalom Serunting Husin
  11. Pangeran Wiro/Dalom Sasi Wahab
  12. Radin Siwan Tulin/Seratu Tayib
  13. Minak Radin Wahab
  14. Minak Sumo Saleh/Minak Sumo Bus
  15. Sumo Liyu Dullah
  16. Minak Rujungan Ahmad/tetap
  17. Penyimbang Ratu Nur/tetap
  18. Radin Pilihan Dul/tetap
  19. Radin Salih Muso/Batin Terus Taher
  20. Pattas Yusup/Parbo Liman
  21. Radin Jayo/Temunggung Liman
  22. Pangeran Sukodio Ahmad/tetap
  23. Dalom Datong/Pangeran Hasan 
(sumber : Bpk Abdurahman/kades dan Pangeran Samsudin)

Sebelum adanya pemerintahan desa, daerah ini masih dibawah kendali pemerintahan yang ada di Jabung sebagai pusat pemerintahan. Selanjutnya kampung ini terus mengalami kemajuan hingga terbentuknya pemerintahan desa. Kampung Negara Batin ini menjadi desa yang difinitif diperkirakan sekitar tahun 1920 dengan kepala desa yang pertama yaitu Sumo Rayo Hi. Nawawi. Adapun pergantian kepemimpinan desa yang ada hingga saat ini adalah sebagai berikut :
  1. Sumo Rayo Hi. Nawawi tahun ....-1924
  2. Minak Rayo Ismail tahun 1924-1928
  3. Batin Kiyai tahun 1928-1936
  4. Kariyo Dulrahman tahun 1936-1944
  5. Dalom Gamo Said tahun 1944-1952
  6. Dalom Rajoniti Tambuh tahun 1952-1953
  7. Temunggung Sampurna Jayo Said tahun 1953-1961
  8. Radin Mangku Ibrahim tahun 1961-1963
  9. Dalom Bandar Marga Yusup tahun 1963-1970
  10. Minak Batin Hasan Basri tahun 1970-1975
  11. Rahman Hi. Ismail tahun 1975-1977
  12. Kemas Sampurna Jayo Husin HS tahun 1977-191986
  13. Hi. Yusup Datang tahun 1986-1994
  14. Minak Rayo Ismail Umar tahun 1994-1995
  15. Dalom Paksi Abdul Wahab tahun 1995-1998
  16. Mangku Bumi HS Syahman tahun 1998-2000
  17. Minak Radin Ibrahim tahun 2000-2001
  18. Mangku Bumi HS Syahman tahun 2001-2005
  19. Minak Radin Ibrahim tahun 2005-2007
  20. Dalom Kiyai Abdurahman tahun 2007-sekarang/2011
(sumber: Buku profil desa Negara Batin/Minak Radin Ibrahim/sekdes).

Sedangkan Buai Aji dan Buai Teladas tetap menempati daerah yang telah ditetapkan semula yaitu di daerah Batu ketetuk. Begitu juga dengan Buai Mega Putih dan Buai Unyi/unyai tetap bertempat tinggal didaerah Seputih Rimbih dibawah pimpinan penggawa adatnya masing-masing.

Sekitar tahun 1824 kedudukan pemerintahan kompeni Belanda pengaruhnya semakin kuat selanjutnya membentuk suatu Marga yang dipimpin oleh seorang Pesirah. Pesirah yang pertama bentukan Kompeni adalah Kriyo Ilo Dirajo kedua (masih keturunan Radin Jimat/Pangeran Ugor Dilampung). Marga yang dibentuk tersebut diberi nama Marga Sekampung Ilir/Libo.Nama marga ini hingga sekarang dikenal sebagai Marga Sekampung Libo/ilir dari Buai Pemuko. Pesirah yang telah dibentuk mulai bekerja dengan menertibkan kembali para anak buahnya. Penertiban ini dilakukan dengan membagi-bagi penduduk yang ada di Batu Ketetuk dan yang ada di daerah Seputih Rimbih. Namun pada saat itu daerah Batu Ketetuk telah dihuni oleh beberapa kebuaian antara lain buai Aji, Buai Teladas, Buai Pemuko, buai Berugo dan buai Metaro. Begitu juga dengan daerah Seputih Rimbih juga telah terdapat beberapa kebuaian antara lain Buai Mega Putih,Buai Unyai ,Buai Subing dan Buai Pemuko. Selanjutnya sebagian penduduk yang ada di daerah batu ketetuk dipindahkan ke daerah srakulo (sekarang Negara Saka) dan sebagian tetap di daerah batu ketetuk. Setelah Buai Aji dan beberapa buai lainnya bertempat di umbul sirkulo/srakulo dibawah satu orang penggawa kemudian berkembang dengan mengubah nama kampung mereka dengan nama Rasako. Nama Rasako kemudian berubah menjadi Negara Saka hingga saat ini. Kampung Negara Saka yang semula dipimpin oleh satu orang penggawa adat, kemudian hingga saat ini berkembang menjadi 12 penyimbang adat. Adapun 12 penyimbang adat yang dimaksud anatara lain :
  1. Temunggung Wahid/Pangeran Rajoniti Husin
  2. Pangeran Paksi Hasan/Minak Batin Ham
  3. Pangeran Puting Mahmud/Pangeran Puting Ismail
  4. Rajo Paksi/Minak Radin Saat
  5. Pangeran Ahmad/tetap
  6. Kiyai Sirah Dul/Karyo Husin
  7. Pangeran Mali/Radin Bagus Dul
  8. Dalom Mahmud/Dalom Permato Nur
  9. Radin Jayo/Batin Rajo Liyu Saman
  10. Dalom Kiyai Usup/Rajoniti Juhari
  11. Rayo Ahmad/Tuan Migo Ibrahim
  12. Radin Deriwang/Radin Deriwang Hasan

(sumber : Pangeran Rajoniti Husin)


* Laki-laki asli kelahiran Jabung, 
Orang tua dari 4 orang putra juga pengajar 
di Sekolah Negeri di Kecamatan Jabung.
No Hp. 085269856004

No comments

Komentar dari setiap Artikel adalah tanggung jawab pribadi masing-masing.
Berkomentarlah yang baik dan sopan.

Powered by Blogger.