Granat Paling Ampuh itu, ya Alquran

dakah kau lupa kita pernah berjaya
Adakah kau lupa kita pernah berkuasa
Memayungi dua pertiga dunia
Merentas benua melayari samudera
Keimanan juga ketaqwaan
Rahsia mereka capai kejayaan


Syahdu, dalam, tajam, dan bermakna, apakah hal-hal seperti itu yang tergambar dalam benak kita ketika membaca rangkai demi rangkai penggalan kalimat di atas? Lalu, apakah lidah, pikiran, dan hati kita merasa akrab dengan kalimat-kalimat tersebut? Jika masih ragu atau lupa, ulangilah membacanya. Resapi, nikmati setiap katanya, dan bayangkan betapa indah kejadian di masa itu.

Sudah ingatkah kita penggalan kalimat apa itu? Yup! Itu adalah penggalan lirik lagu. Begitu indah, bukan? Penggalan kalimat itu jelas tidak muncul begitu saja, tidak tercipta dengan mudahnya. Ada banyak maksud yang dikumpulkan sebelum ia terlahir, ada banyak tujuan yang dirampungkan sebelum ia ada. Tahukah kita untuk apa gunanya? Apalagi kalau bukan untuk mengingatkan kita tentang betapa berpengaruhnya Islam dalam putaran peradaban dunia kala itu, betapa menakjubkannya Islam dalam mewarnai kehidupan manusia kala itu, di seluruh hamparan bumi, merambah ke segala pelosok negeri.

Baiklah, kita tidak akan berlama-lama dengan penggalan lirik lagu tersebut, namun setidaknya penggalan lirik lagu itu dapat menjadi penghantar yang menyentakkan untuk mengobarkan lagi semangat kita.

Mari kita mulai pembahasan ini dengan cerita-cerita. Ini bukan kisah fiktif atau imajinasi belaka, juga bukan cerita ngada-ngada, apalagi sekadar dongeng bohongan. Kisah ini benar-benar terjadi, jalan ceritanya nyata ada, dan Allah langsung yang mensutradarainya. Mereka diperankan oleh manusia-manusia pilihan, yang hadirnya menebar kedamaian, yang adanya membawa kebermanfaatan.

Mereka adalah generasi gemilang yang sampai kini masih sering menjadi buah bibir disetiap perbincangan. Dan mungkin sampai akhir zaman pun tidak akan pernah berhenti untuk dibicarakan. Adalah Rasulullah yang menjadi pilar bagi mereka untuk tegar dan berakhlak mulia, untuk kuat dan bertekad baja, serta untuk taat dan berpikir cerdas. Di antara mereka ada Thalhah bin Ubaidillah, pemuda tangguh yang memiliki keberanian luar biasa, melindungi Rasulullah di perang Uhud dengan bayaran tujuh puluh tebasan tombak ditubuhnya.

Juga ada Sa’ad bin Abi Waqqash, pemuda pemberani yang mahir memanah. Di saat usianya baru menginjak 17 tahun, ia telah menjadi ksatria penunggang kuda paling berani yang pernah ada. Berjuang bersama Rasul dan para sahabat lainnya untuk membentangkan kalimatullah di hamparan bumi Sang Pencipta. Tidak takut dan tak pernah gentar.

Lagi, ada Zaid bin Tsabit, pemuda yang diusianya 13 tahun telah mendaftarkan diri untuk berperang bersama pasukan Rasul melawan kemungkaran, Allah mengaruniainya otak cerdas dan pikiran tajam, hingga diusianya yang ke 21 tahun, Zaid mendapat tugas maha berat dari sang Kekasih Allah, yakni menghimpun wahyu.

Jauh dari masa itu juga ada Salahhudin Al-Ayyubi, panglima perang yang gagah berani, penakluk terbesar yang dimiliki Islam di sepanjang sejarah perjuangannya. Dengan segenap kekuatan dan tekad, ia bersama para tentaranya berhasil menguasai beberapa daerah dan mempersatukannya di bawah panji-panji Islam. Serta banyak lagi lainnya.
Mereka semua itu nyata, benar-benar ada, dan kejadian yang mereka alami adalah kejadian yang benar-benar terjadi. Merekalah generasi Qurani, memegang teguh prinsip-prinsip Islam, memeluk erat aqidah dan kebenaran. Di masa-masa itu Islam berhasil menyelimuti 2/3 bagian bumi, menguasai, dan mencerahkan peradaban. Namun, setelah generasi ini habis, kelemahan dan kelalaian generasi penerus membuat sinar dan binar Islam perlahan meredup, hingga sampai sekarang tak lagi kita jumpai kegemilangan itu.
Apa yang membuat orang-orang seperti mereka mampu menciptakan perubahan pada dunia? Apalagi kalau bukan iman, yang melahirkan rasa cinta dan niat perjuangan, yang memupuk persaudaraan dan rasa kesetiakawanan, kuat, kokoh, dengan satu landasan, yakni Alquran. Pegangan sakti yang menuntun siapa saja pemiliknya ke jalan penuh ketenangan dan kebahagiaan. Itulah yang menjadi bumbu rahasia keberhasilan mereka. Lantas, bagaimana keadaan sekarang?

Di tengah hingar-bingar peradaban modern, dengan segala macam kecanggihannya, perlahan generasi penerus peradaban Islam terseret arus modernisasi tanpa mampu lagi untuk mengontrol diri. Meski ada satu atau dua orang yang masih memegang prinsip untuk mempertahankan nilai-nilai Islam dalam setiap gerak kehidupannya, meski ada sekelompok atau segelintir orang yang masih sibuk berdakwah, menanamkan pemahaman yang benar akan Islam, namun jumlah mereka tetap saja kalah banyak dengan yang tak lagi mau peduli, yang masa bodo, yang sibuk memperturutkan tuntutan dunia dan lain sebagainya.
Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Islam terbanyak, ternyata masih belum mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara kaffah dalam setiap lini kehidupannya. Kebobrokan demi kebobrokan terus saja menggerogoti jantung pemahaman masyarakat Islam Indonesia. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, arusmodernisasi begitu deras menghanyutkan para generasinya ke dalam pusaran hedonisme, lupa akan cita-cita perjuangan, jauh dari mimpi memakmurkan peradaban, dan bahkan malah ikut-ikutan ngotot membudayakan budaya orang yang terkadang jauh dari prinsip syariat Islam.
Tentu kita tidak ingin negara ini hancur, bukan? Membiarkannya perlahan dilahap pemikiran-pemikiran rapuh pihak luar. Pada siapa semua harapan untuk tetap mempertahankan koridor kebenaran disandarkan kalau bukan kepada para generasinya? Pada siapa lagi mimpi-mimpi untuk tetap jaya dan gemilang digantungkan kalau tidak kepada putra-putri penerusnya? Namun sayang, justru kini para penerus itulah yang seolah kehilangan arah, hidup tidak dalam jati diri mereka sendiri, dan berpikir dengan cara pikir yang tak banyak memberi solusi.

Binar itu benar-benar redup. Ketika film porno lebih digandrungi dari pada kisah-kisah hikmah oleh para pemudanya, ketika tempat tongkrongan lebih asyik dikunjungi dari pada berkumpul dan belajar bersama di mesjid oleh para generasinya, ketika pakaian tipis, jarang dan terbuka lebih disukai ketimbang baju yang menutup rapi seluruh aurat putri-putrinya, ketika meninggalkan shalat sudah dianggap sepele, ketika kemajuan teknologi terlalu didewakan, maka sungguh ketika itulah sebenarnya kita telah kehilangan esensi keberadaan Islam di negeri ini.

Coba kita kembali lagi pada penggalan-penggalan kisah yang telah dipaparkan sebelumnya, tentang ketangguhan Thalhah bin Ubaidillah, tentang keberanian Sa’ad bin Abi Waqqash, tentang kecerdasan Zaid bin Tsabit, dan tentang kewibawaan seorang Salahhudin Al-Ayyubi, di mananya generasi kita sekarang berada? Jika tidak ada satupun jawaban yang tepat dalam pilihan itu, masih belum sadar jugakah kita kalau sesungguhnya kita tengah berada dalam masalah besar?

Kembalikan pilar penerus bangsa, tumbuhkan lagi optimisme mereka untuk mau peduli pada keadaan sekitarnya, hidupkan lagi semangat kecintaan untuk senantiasa mempelajari, mendalami, mangamalkan, serta menyampaikan ajaran Islam. Itulah tugas kita sekarang, tidak perlu pikir panjang untuk menemukan solusi terbaik dari segala macam perhitungan. Cukup kembalikan segalanya pada Alquran. Di sana akan kita temukan jawaban dari segala permasalahan, menelaahnya membuat kita mengerti tentang kepantasan, mempelajarinya membuat kita paham akan kekeliruan.

Alquran, kalimat-kalimat penuh cinta dan peringatan yang Allah kirimkan kepada kita sebagai pedoman hidup lewat risalah yang dibawa Rasulullah. Tidak ada kekurangan di dalamnya, segalanya jelas, semuanya terang. Membenarkan apa yang patutnya dibenarkan dan menunjukkan jalan yang benar untuk menghapus setiap kesalahan. Kitab suci yang diturunkan sebagai penyempurna, penutup yang terdahulu, dan jawaban atas segala pertanyaan hidup di dunia. Alquran, kitab suci yang telah berhasil membuat Salahhudin Al-Ayyubi gagah berani menegakkan panji Islam. Alquran, kitab suci yang berhasil membuat hati Umar bin Khattab bergetar hebat, tepat ketika cahaya keislaman mulai memancar diwajahnya. Alquran, juga kitab suci yang membuat Nabi Muhammad selalu tersungkur lemah di hadapan Allah ketika shalat, karena di dalamnya ada banyak pengajaran, bersamanya ada berjuta ketauladanan.

Ketika Aisyah binti abu Bakr ditanyai tentang akhlak Rasulullah, maka Aisyah menjawab, akhlak Rasul adalah Alquran. Apalagi yang harus diragukan, jadikan Alquran penyejuk di kala hati sedang dilanda kegersangan, kisah-kisah yang terpampang di dalamnya akan membakar semangat untuk tidak lagi mau menyia-nyiakan waktu, karena segala akan dimintai pertanggungjwabannya.

Pemuda-pemudi Islam yang imannya mulai kendor, yang semangatnya mulai loyo, yang pikirannya mulai melayang entah kemana, maka obati mereka dengan Alquran. Jangan enggan, pelajari bersama maknanya dan amalkan langsung apa yang diperintahkan-Nya.
Zaman yang semakin mendesak tidak akan pernah mau mengalah, untuk itu kitalah yang butuh benteng pertahanan diri yang kuat agar tetap berjalan di jalur yang semestinya. Adalah Alquran yang bisa memberikan jawaban atas segala permasalahan.

Kita tidak bisa berharap banyak dari kurikulum pendidikan yang ada saat ini, karena di sekolah pun anak-anak kita tidak melulu diajarkan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran. Sebagai orang tua, mestinya peka dengan hal ini. Jadilah orang tua yang dengan segala bentuk kemampuan selalu menerapkan nilai dan prinsip-prinsip Alquran kepada anak-anak. Keluarga adalah wadah primer yang bertanggung jawab membentuk seperti apa kepribadian anak. Maka lukislah setiap tingkah laku anak itu dengan cat warna yang telah Allah sediakan dalam Alquran, agar kelak anak-anak kuat membentengi diri mereka dari parahnya dunia.

Setiap makna dari kisah-kisah yang ada dalam Alquran adalah granat yang seharusnya mampu meledakkan semangat para generasinya, yakni pemuda-pemudinya. Dipundak mereka besar harapan bangsa ini untuk dibawa ke arah yang lebih baik, ke janji masa depan yang lebih gemilang. Jujur, saat ini Indonesia sangat membutuhkan tunas-tunas bangsa yang dengan semangat mampu berpikir positif dan kreatif untuk memajukan Indonesia, butuh generasi penerus yang semangatnya tinggi untuk tetap berkarya dan berusaha menjadi yang terbaik dalam bidang-bidang yang mereka kuasai.

Di tangan generasi loyo, negara ini akan hancur. Maka tidak ada kata “tunggu” atau “nanti” untuk menciptakan tunas-tunas bangsa yang berpikiran maju ke depan, yang bekerja optimis demi masa depan, dan yang tak pernah melupakan pertanggungjawaban atas segala yang telah dilakukannya, karena ia sadar bahwa setelah kematian pasti akan ada kehidupan.

Alquran adalah landasan segala ide, muara semua pola pikir, dan acuan untuk seluruh tingkah laku, karena Alquran merupakan sumber semangat pemuda Islam. Andaikata semua kita paham akan hal ini, tentu saja permasalahan tentang bobroknya akhlak pemuda bangsa bisa segera di atasi, karena sebaik-baiknya akhlak adalah akhlak yang berpedoman pada Alquran.

Semoga mimpi buruk yang berkepanjangan tentang lemahnya kepedulian generasi muda akan kitab suci mereka sendiri bisa segera berakhir, digantikan dengan ukiran-ukiran indah prestasi gemilang yang mereka torehkan, karena mengembalikan segala persoalan kepada Allah dan menemukan jawabannya dalam Alquran adalah solusi yang tepat untuk membuat peradaban Islam kembali bersinar.



No comments

Powered by Blogger.