Ya Allah, Aku Galau

Judul: Ya Rabb, Aku Galau
Penulis: Aida Ahmad & Ummi K Miqdar
Editor: Hijrah Saputra & Adhika Prasetya
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: Pertama, 2014
Jumlah Halaman: 170 halaman
ISBN: 978-602-241-796-5


Setiap Masalah Ada Jalan Keluar

Ujian adalah bagian dari kehidupan. Jika tidak ingin merasakan ujian, maka jangan ada di dunia. Hadirnya ujian dalam kehidupan kita, sering membuat ‘galau’-kata anak muda sekarang. Seharusnya, galau tidak dibiarkan ada dalam kehidupan. Karenanya, galau harus segera diusir, maka setelah itu akan terbit move on.

Seperti sepuluh kisah dalam buku Ya Rabb, Aku Galau karya Aida Ahmad dan Ummi K. Miqdar. Kisah-kisah dalam buku ini semuanya nyata, namun ditulis dengan gaya bahasa yang mengena pada pembaca. Memakai sudut pandang orang pertama, seakan pembaca langsung mendengar cerita dari tokoh yang mengalami kegalauan dalam hidupnya. Sehingga, cerita dalam buku ini mudah diserap dan mampu merasuk ke hati pembaca.

Pada kisah yang berjudul Ibuku, Bukan Ibuku, diceritakan Salman adalah anak angkat orang tua yang sampai sekarang merawatnya. Baru saat SMP orang tua angkatnya bercerita bahwa Salman bukan anak kandungnya. Salman yang baru masa-masa pencarian jati diri pun goyah. Awal masa remajanya menjadi kacau, dia galau.

Salman pun marah pada orang tua angkatnya. Mengapa menceritakan kenyataan menyakitkan itu baru saat SMP. Bahkan dia menganggap orang tua angkatnya tidak usah mengakui bahwa mereka bukan orang tua kandung saja. Tetapi bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Apa yang telah terjadi, tidak bisa dicegah ataupun diulang.

Sebagai pelampiasan Salman kabur dari rumah, dan ikut teman-temannya yang suka balapan motor. Dia dibonceng dan temannya menyetir dengan sangat kencangnya. Balapan dengan pengemudi sepeda motor lainnya, saling menyalip bahkan menyenggol pula. Tidak hanya kalah, Salman dan temannya ditabrak dari belakang akhirnya membuat sepeda motor tidak seimbang. Salman dan temannya terpelanting cukup jauh. Kaki Salman mengeluarkan darah, sakit dan tidak bisa diangkat untuk berdiri.

Sedangkan teman Salman masih bisa berkelahi dengan kelompok pembalap yang curang padanya. Namun pada akhirnya dia harus kalah, babak belur karena hanya seorang melawan banyak orang. Akhirnya dia lari menaikkan Salman ke sepeda motor dan membawanya ke UGD. Salman harus dioperasi.

Meski telah kabur dari rumah, namun orang tua angkatnya masih datang untuk melihat keadaan dan membayar segala biayanya di rumah sakit. Sebagai salah satu bukti, bahwa meskipun bukan orang tua kandung namun mereka tetap sayang kepada Salman. Dari kejadian tersebut Salman akhirnya sadar bahwa dia harus tetap menghormati, menyayangi dan bersikap baik pada orang tua angkat yang telah membesarkannya sampai saat ini. Salman pun memberi kebanggaan pada orang tua angkatnya juga dengan menjadi pemenang kedua dalam kejuaraan pencak silat se-SMP di Tangerang (halaman 34).

Lain cerita dalam kisah yang berjudul Jangan Sakiti Hati Ibuku. Kisah ini bercerita tentang Roby yang berusia 18 tahun. Remaja ini dilanda galau karena ayahnya selingkuh. Tidak hanya itu, ayahnya berniat akan menikahi selingkuhannya. Sejak saat itu Roby benci kepada ayahnya. Dia juga sangat benci kepada wanita selingkuhan ayahnya.

Tak jarang Roby meneror selingkuhan ayahnya. Berbagai cara Roby lakukan agar rumah tangga orang tuanya tidak hancur. Segala cara dia perjuangkan agar ayahnya tetap mencintai ibunya. Namun ternyata ayahnya lebih mencintai selingkuhannya. Dan sia-sialah yang dilakukan Roby karena ternyata ayahnya telah menikah dengan selingkuhannya.

Meski begitu, ibunya masih tetap bersabar menghadapi ujian yang dia hadapi. Sedangkan Roby tidak kuat. Dia kehilangan sosok ayah yang pernah dia kagumi. Roby melampiaskan dengan merokok, bolos sekolah dan memakai narkoba. Namun, ibunya tetap bersabar dan menasehati Roby agar sadar dan kembali menata hidup. Walaupun masih ada rasa kecewa dan marah pada ayahnya, dia berubah dan fokus pada hidupnya. Dia berjanji, tidak akan menyakiti hati wanita yang dicintainya (halaman 147).

Selain yang telah disebutkan di atas kelebihan buku 170 halaman ini adalah diawali dengan prolog cerita dan diakhiri dengan epilog yang membahas tentang apa hikmah dari cerita, apa kaitannya dengan hukum agama, juga tips-tips mengatasi ujian hidup. Di akhir buku ini juga doa Rasulullah Saw ketika sedih dan galau. Cukup lengkap sebagai pelipur lara pembaca yang mengalami kegalauan yang sama ataupun beda dengan yang ada di cerita. Namun, intinya tetap sama yaitu ujian. Ada 8 kisah lain dalam buku ini yang akan menyentuh hati pembaca, ada baiknya jika Anda baca sendiri dalam buku ini. Semoga kita dikuatkan dalam menghadapi segala ujian hidup, untuk menyongsong move on setelah terbenamnya galau. Selamat membaca!



No comments

Powered by Blogger.