Ngeri, Ini Dia Operasi Senyap Jokowi Batalkan Hukuman Mati Warga Australia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih mengedepankan kepentingan pribadinya dengan tidak memberikan hukuman mati dua warga Australia yang terlibat narkoba.
“Kalau saya lihat berita-berita di Australia, dua warga Australia tidak jadi dihukum mati,” ungkap aktivis politik Ahmad Lubis kepada intelijen, Kamis (26/3).
Menurut Lubis, ancaman Australia terhadap Presiden Jokowi akan membongkar pembicaraan saat Pilpres 2014 membuat mantan Wali Kota Solo itu membatalkan hukuman mati.
“Australia punya data penyadapan. Hal ini membuat Jokowi ketakutan. Maka ia meminta diplomat Indonesia untuk membicarakan masalah pembatalan hukuman mati,” paparnya.
Kata Lubis, dalam membatalkan hukuman mati ini, Jokowi menggunakan operasi senyap agar tidak diberitakan oleh media.
“Maka dimunculkan isu ISIS, maupun isu lainnya termasuk Ahok yang bersuara keras dan kasar. Ahok itu teman akrab Jokowi. Saat menemui Ahok, Jokowi minta bantuan untuk menjalankan operasi senyap ini,” papar Lubis.
Lubis mengatakan, Jokowi sudah mengatahui, ponselnya sudah disadap pihak asing maupun lawan politiknya, maka ia menemui langsung pihak mana saja termasuk Ahok untuk menjalankan operasi senyap ini.
“Ahok ngomong kasar sampai menggunakan bahasa toilet itu bagian dari operasi senyap untuk mengalihkan pembatalan hukuman mati dua warga Australia. Anehnya setelah ngomong kasar itu Kompas TV menayangkan lagi, walaupun diedit, tetapi diperingatkan pihak KPI. Keterlibatan Kompas TV, Kompas Gramedia, Jokowi, Ahok jangan dianggap sepele. Ini Bagian dari operasi intelijen,” pungkasnya.
Sumber : Intelijen.co.id

No comments

Powered by Blogger.