Menimbang Gatot Pujo Nugroho


Gatot Pujo Nugroho. (kominfo.go.id)

Menuliskan nama Gatot Pujo Nugroho adalah menuliskan nama ikon yang populer saat, khususnya di mesin pencarian Google. Begitu kata “Gatot Pujo Nugroho” dituliskan pada mesin pencarian Google, serta merta kata tersebut muncul berurutan ke bawah (drop down) diikuti dengan kata embel-embel “korupsi”, “istri”, “PKS”, dan “KPK”.

Itulah kata-kata populer yang melekat pada nama besar seorang Gatot Pujo Nugroho. Sayangnya, keempat kata yang menyertai nama Gatot Pujo Nugroho jika ditelisik lebih dalam, maka hampir seluruhnya tidak berbicara tentang prestasi Gatot Pujo Nugroho dalam kaitannya sebagai Gubernur Sumatera Utara. Hampir semunya mengupas tentang konstruksi negatif terkait dengan kehidupan Gatot sebagai manusia.

Tentu saja bagi Gatot, keluarganya dan lingkaran terdekatnya, termasuk juga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tempat di mana dia menyalurkan aspirasi politiknya, konstruksi negatif yang dilekatkan semacam ini boleh jadi dirasakan sebagai pembunuhan karakter (character assasination) dan pelabelan yang tidak humanis.

Mengapa begitu cepat penulis berkesimpulan akan adanya pembunuhan karakter dan konstruksi negatif berlebihan yang tidak humanis? Jawabnya ada pada indikasi dari super cepatnya media dan orang-orang tertentu membongkar kekurangan yang ada pada diri Gatot melampaui kebaikan yang bertahun-tahun dibangun dan diperjuangkannya.

Sangat memprihatinkan bahkan ketika Gatot diproses KPK berkaitan dengan kasus dugaan suap terhadap hakim PTUN Medan, serta merta bermunculanlah kata-kata dan kalimat menghakimi. Misalnya, ada yang sempat menuliskan akhlaknya tidak baik, karena gampang memutuskan tali silaturahim.

Inilah sesuatu yang menusuk ke jantung dan hati, ketika seorang penulis di media (Dakwatuna) menuliskan tentang akhlak Gatot dalam tanda petik. Entah atas dasar motivasi apa penulis tersebut berpanjang-panjang menulis tentang Gatot dan hubungan pribadinya dengan Puspo Wardoyo (pemilik waralaba Wong Solo) yang banyak tidak diketahui publik sebelumnya.

Bahkan sulit pula diselami perihal mengapa penulis ini tiba-tiba tergerak hatinya menuliskan tentang pribadi Gatot di saat dia sedang diproses di KPK. Apa pula hubungan spesial penulis dengan Puspo Wardoyo, mengingat sedikitnya penulis ini sudah dua kali menuliskan tentang publik figur (Yusuf Mansyur dan Gatot) kaitannya dengan Puspo Wardoyo.

Lebih lanjut, tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis tulisan berjudul “Gatot Pujo Nugroho Bukan Konsultan Kerohanian Wong Solo” yang dimuat dua seri di Dakwatuna. Penulis tertarik melakukan analisis atas tulisan ini untuk memberikan pencerahan dan perimbangan terhadap konten (isi) sebuah teks dan oleh karenanya agar menjadi pelajaran bagi pembaca semuanya.

Catatan tentang Gatot Pujo Nugroho

Menarik untuk mengutip beberapa bagian dari secara ringkas dari tulisan berjudul “Gatot Pujo Nugroho Bukan Konsultan Kerohanian Wong Solo” sebagai berikut:

“Alhasil, Gatot yang sedang ditahan oleh KPK dan sedang menjalani penyelidikan di Kejaksaan Agung itu sudah disangkakan melakukan dua tindak pidana sekaligus, yakni penyuapan dan korupsi.” [Kutipan 1].

“Cerita Gatot ini sangat menarik perhatian masyarakat, karena selain dia sebagai kepala daerah yang juga kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), kehadiran Gatot di dunia politik Sumut terbilang baru. … Nama Gatot lebih disebut (hanya) sebagai seorang ustad atau dosen pada Politeknik Sumatera Utara.” [Kutipan 2].

“…, Puspo Wardoyo sendiri membantah kalau Gatot pernah dipakainya sebagai konsultan kerohanian.” [Kutipan 3].

“Bahkan ketika Gatot maju dalam Pilkada Sumut sebagai calon gubernur, Puspo Wardoyo tidak setuju dengan pencalonan itu. “Saya melihat ada tanda-tanda yang kurang baik pada diri Gatot yang tidak mencerminkan seorang dai,” demikian alasan Puspo Wardoyo ketika itu.” [Kutipan 4].

“Selanjutnya Puspo menuturkan bahwa saat itu Gatotlah yang datang kepadanya dan memintanya untuk berkontribusi maliyah dalam dakwah, termasuk dalam ekonomi rumah tangganya yang dirasakan masih kurang.” [Kutipan 5].

“Saat itu Gatot hanya bermodalkan ijazah D3 politeknik, berstatus sebagai PNS dengan satu istri dan tiga anak memang terasa kurang untuk hidup di Kota Medan.” [Kutipan 6].

“Puspo Wardoyo memenuhi permintaan Gatot ini karena dia melihat pribadi Gatot dan keluarganya yang baik.” [Kutipan 7].

“…, Puspo Wardoyo memberikan bantuan berupa uang satu juta rupiah setiap bulan kepada keluarga Gatot. …, Puspo juga memberikan bantuan untuk biaya sewa rumah, membelikan sebuah sepeda motor, laptop, handphone dan pulsanya. Semua bantuan Puspo kepada Gatot ini berlangsung selama sepuluh tahun, yakni sejak tahun 1996 hingga tahun 2006. Bukan hanya itu, aktivitas dakwah Gatot dalam kiprahnya di PKS juga ditopang oleh Puspo dengan memberikan donasi setiap bulan sebesar enam juta rupiah.” [Kutipan 8].

“”Saya tidak punya motivasi apa-apa dalam memberikan bantuan itu. Saya ikhlas. Saya ingin membantu ekonomi keluarga Gatot sebagai pendakwah dan ingin membesarkan PKS di Sumut. Itu saja. Lebih dari itu tidak ada,” tegas Puspo”. [Kutipan 9].

“Puspo Wardoyo memang diundang dalam acara itu, hanya saja sikap Gatot menjadi dingin dengannya. …, apa kesalahannya sehingga Gatot menjadi lupa kepada dukungannya selama ini.” [Kutipan 10].

“Sayangnya, selama hampir setengah jam mereka di situ, Gatot melihat Puspo Wardoyo seperti orang yang tak pernah dikenalnya selama ini. Alih-alih menjabat tangan, menyapa pun tidak.” [Kutipan 11].

“Begitulah Gatot Pujo Nugroho, orang yang pernah disupport perekonomian rumah tangga dan aktivitas dakwahnya selama sepuluh tahun oleh Puspo Wardoyo dan Wong Solo.” [Kutipan 12].

Pada tulisan kedua, “Sayangnya, selama lima belas menit mereka menunggu mobil masing-masing, Gatot melihat Puspo Wardoyo seperti orang yang tak pernah dikenalnya selama ini, dia malah asyik berbicara dengan temannya.” [Kutipan 13].

“Puspo Wardoyo sangat menyesalkan sikap Gatot yang mencantumkan ‘Konsultan Kerohanian’ dalam daftar riwayat hidupnya. Menurut Puspo, sebelum Gatot datang menemuinya, Wong Solo sejak 1993 sudah memiliki penasihat kerohanian sendiri yang merupakan guru besar di IAIN Sumut, yakni Prof. Dr. Sahrin Harahap dan wakil-wakilnya seperti Dr. Abdul Matin, Lc, Dr. Daud Rasyid, MA, Dr. Zainal, Lc, MA dan Dr. Sofyan Saha, Lc.” [Kutipan 14].

“….”Pasalnya, dalam pandangan Puspo, Gatot memiliki akhlak yang buruk, yakni suka memutuskan silaturahim. … Akhirnya, setelah terpilih menjadi gubernur, banyak kalangan yang menyesalkan sikap Gatot yang sukar ditemui, termasuk oleh petinggi-petinggi PKS.” [Kutipan 14].

Analisis data

Menurut penulisnya (Darso Arief Bakuama), Gatot adalah sosok yang menarik perhatian masyarakat, merupakan kepala daerah dari PKS, kehadirannya baru di dunia politik, dan [hanya] seorang ustad atau dosen [Kutipan 2], hanya bermodalkan ijazah D3 dan seorang PNS [Kutipan 6].

Penulis berupaya untuk menyampaikan bahwa Gatot menarik menurut masyarakat (belum tahu masyarakat yang mana), ditambah label Gatot kader PKS, baru di dunia politik (belum berpengalaman) dan sayangnya dia [hanya] seorang ustadz dan dosen, dan hanya berpendidikan D3.

Inilah rapor merah Gatot di mata penulis. Penulisan kata “hanya” sedikitnya dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Gatot ini sebenarnya bukan siapa-siapa sebelumnya. Bukan siapa-siapa menurut ukuran popularitasnya di dunia politik saat itu dan pula bukan apa-apa menurut kepintarannya ditinjau dari tingkat pendidikannya yang bermodalkan ijazah D3 politeknik dan seorang pegawai negeri sipil.

Di sinilah kemungkinan letak kekeliruan kita dalam menilai seorang Gatot. Terlalu tergesa-gesa dalam memberikan rating atau peringkat. Sehingga, terlalu bias dalam membuat kesimpulan dari premis-premis yang tidak sesuai. Bahwa pemimpin yang baik harus senior, berpengalaman, dan berpendidikan tinggi. Sementara Gatot adalah anak muda kader PKS dan hanya berpendidikan D3 politeknik. Maka, akan sangat tergesa-gesa kalau kita beranggapan sebenarnya Gatot bukan pemimpin yang baik untuk masyarakat Sumatera Utara.

Mari kita posisikan Gatot muda, pekerja keras, berpendidikan biasa dan ternyata terbukti menjadi pilihan masyarakat sebagai pemimpin mereka di Sumatera Utara. Maka terbantahkanlah prasyarat pemimpin itu harus senior, tidak juga harus berpengalaman karena pengalaman itu sendiri sebenarnya didapatkan dari melakoni sesuatu (experienced by doing), dan juga tidak perlu harus bergelar akademik puncak.

Gatot muda tentu lebih memiliki potensi dalam memajukan provinsi yang dipimpinnya dengan semangat mudanya jika ditambah dengan daya kreasi dan inovasinya dalam membangun masyarakat.

Karier politik memang tidak harus linear dengan capaian akademik yang tinggi, meskipun di satu sisi bisa juga karier puncak politik dicapai ketika yang bersangkutan telah pula mencapai tahapan akademik tertingginya.

Gatot adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu mencapai karier politik yang tinggi sebelum dia mencapai gelar akademik tertingginya. Di sinilah keunikan Gatot muda, mampu menunjukkan kecakapan politik dan kepemimpinannya lebih unggul dibandingkan dengan kader-kader PKS lainnya yang lebih banyak bergelar akademik lebih tinggi darinya (master dan doktor) dalam berbagai bidang.

Namun demikian, gelar akademik Gatot yang biasa, bukanlah yang harus kita kulik secara mendalam. Mengingat dalam kepemimpinan, politik dan bisnis sekalipun gelar akademik bukan prasyarat utama. Perhatikan Steve Jobs (Abdul Latief Jandali), sang pendiri Apple Computer yang tidak pernah menuntaskan pendidikan di Reed College, Portland, Oregon kecuali memenuhi gairahnya (passion) dalam mengembangkan minatnya dalam memimpin masa depan dunia melalui dunia teknologi informasi.

Hal yang sama juga terjadi pada boss Microsoft, Bill Gates, memutuskan untuk keluar dari Harvard College dan memilih membangun perusahaan software Microsoft bersama rekannya Paul Allan. Di tanah air, Dr Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru menuntaskan doktoralnya di IPB saat bersamaan menjadi Presiden RI. Artinya, karier politik dan kepemimpinannya lebih mendahului dibandingkan pencapaian akademik puncaknya. Demikian pula dialami politisi Golkar Akbar Tanjung dan Fadhel Muhammad, dan politisi PDIP Pramono Anung, mereka mendapatkan gelar akademik doktornya kemudian setelah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia politik.

Lebih unik lagi di PKS, Presiden PKS sebelum Dr Sohibul Iman, Anis Matta Lc, bukanlah seorang doktor, tetapi kemampuan kepemimpinan dan orasinya dapat dipastikan melampaui kemampuan seorang doktor. Itu disebabkan kemampuan karier politik dan kemampuan kepemimpinannya melampai gelar akademis. Hingga di kemudian hari pun mereka mungkin tetap akan menuntaskan pula capaian akademik tertinggi yang disukainya.

Oleh karena itu, kepada penulis pembaca berhak mengajukan sebuah pertanyaan apakah penulis sudah melakukan tabayyun (melakukan klarifikasi) kepada DPP PKS mengapa mereka merekomendasikan orang yang hanya ustad dan dosen untuk menjadi Gubernur Sumatera Utara.

Jika ini belum diklarifikasi maka sebenarnya penulis dapat terjebak melakukan penghakiman sepihak yang merendahkan kemampuan dan kredibilitas seseorang. Dan, makanya tidak pantas dia mengatakan kata “hanya” untuk melabeli seseorang jika sebenarnya dia tidak cukup mengenal sosok seseorang dengan baik.

Pelajaran berharga dapat kita petik dari Rasulullah SAW dan para sahabat. Ketika Rasulullah sedang melakukan taklim bersama para sahabat, kemudian masuklah seorang sahabat yang dikatakan oleh Rasulullah di hadapan para sahabat bahwa telah masuk ke dalam masjid seorang ahli surga. Salah seorang sahabat yang penasaran, ingin mengetahui apa rahasia sang ahli surga ini, dan mencari akal agar bisa bermalam di rumah orang tersebut untuk sekedar melakukan investigasi tentang amalan rahasia sang ahli surga tersebut.

Peristiwa ini menegaskan kepada kita tentang perlunya investigasi mendalam terhadap berita yang kita dapatkan. Belumlah berimbang dan mendalam informasi yang kita dapatkan sebelum kita mengeceknya secara langsung. Bahkan ada satu indikator yang baik dalam hal ini, seorang belum cukup baik mengenal saudaranya seiman mana kala dia belum pernah bermalam di rumahnya.

Ada lagi sebuah kisah menarik. Kisah menarik dari sang ustadz (murabbi) bahwa dulu kala murabbinya sang ustadz memiliki kebiasaan izin untuk masuk ke kamar mandi binaannya (mutarabbi) dengan alasan ada keperluan ke belakang. Kebiasaan ini sebenarnya dilakukan sang murabbi dengan maksud dan misi untuk lebih mendalami kondisi binaannya yang rumahnya dijadikan tempat untuk kajian saat itu. Mengapa demikian? Dari kamar mandilah rupanya sang murabbi salah satu caranya bisa mengenal kondisi sang tuan rumah, tercermin dari sabunnya yang hampir habis tinggal seujung jari, dan pasta giginya yang mungkin sudah melingkar-lingkar bentuknya karena dipaksa mengeluarkan pasta gigi yang sudah habis tetapi belum juga mampu membeli yang baru sebab keterbatasan finansial.

Demikianlah ikhwah, investigasi mendalam yang demikian kita butuhkan agar kita tidak mengedepankan informasi yang bias disebabkan karena kebencian yang terlalu mendominasi kejiwaan kita, karena kita tidak pernah mencoba mengenal saudara kita dengan baik dan karena kita tidak pernah mencoba untuk menanam, merawat dan menumbuhkan tanaman kembang di hati kita hingga kuncupnya mekar menjadi bunga.

Selanjutnya, merupakan suatu hal yang biasa jika seorang aktivis dakwah datang kepada saudaranya sesama Muslim untuk menawarkan kesempatan beramal jama’i dengan harta dan jiwanya, dalam hal ini Gatot kepada Puspo Wardoyo seorang pengusaha dan dermawan Muslim [baca konteks Kutipan 5]. Hanya saja yang perlu dilakukan klarifikasi adalah apakah benar Gatot juga datang kepada Puspo untuk minta bantuan dalam ekonomi rumah tangganya yang dirasakan masih kurang. Pertanyaannya, apakah juga Gatot yang berpendidikan D3, PNS, satu istri dan tiga anak kala itu dapat disimpulkan memiliki kehidupan yang kurang untuk hidup di Kota Medan [Kutipan 6] dan karenanya harus datang kepada saudara Muslimnya untuk meminta bantuan.

Mengacu kepada kedua kutipan [Kutipan 5 dan 6], terlepas dari kebenaran kisah yang dituturkan oleh Puspo Wardoyo kepada penulisnya, maka seharusnya cerita semacam ini tidak harus beredar ke tengah masyarakat. Sebagai Muslim yang baik baik Puspo Wardoyo maupun penulis menyadari jika itu sebuah fakta maka ada hak dari saudaranya yang sebaiknya tidak diungkit-ungkit dan diumbar kepada publik. Jangan sampai berlaku pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Gatot yang disangkakan melakukan tidak pidana penyuapan dan korupsi [Kutipan 1] tentu akan sangat merasa sakit mendapatkan sorotan yang terkesan merendahkan martabatnya. Lebih-lebih lagi Puspo mengatakan ikhlas dalam membantu [Kutipan 9], maka tidak pantas pula jika niatnya ikhlas mengekspose apa yang sudah disumbangkannya di jalan dakwah dan sekaligus membantu saudaranya yang lain [Kutipan 8].

Bagi penulis sebaiknya berlaku ahsan kepada saudara muslimnya niscaya akan mendapatkan balasan kebaikan pula dalam hidupnya. Ingatlah bahwa “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” [QS Ar-Rahman, 55: 60]. Maka, jauhkanlah membuat kesimpulan yang dapat menyesakkan dada saudara kita, sebagaimana berikut:

“Begitulah Gatot Pujo Nugroho, orang yang pernah disupport perekonomian rumah tangga dan aktivitas dakwahnya selama sepuluh tahun oleh Puspo Wardoyo dan Wong Solo.” [Kutipan 12].

Sebagai publik figur dan pemimpin, Gatot memang harus dikoreksi dan diingatkan agar tidak terjerumus ke dalam kebinasaan dan dosa. Sebagai manusia Gatot memang harus ditimbang, maka Gatot kini dalam timbangan, timbangan kita semoga membawanya ke dalam kepemimpinan yang diridhai Allah SWT.

Salam cinta dari kami di rantau buat kontributor ikhwah fillah Darso Arief Bakuama, saudagar Muslim Puspo Wardoyo, dan Gubsu (non aktif) Gatot Pujo Nugroho. []


No comments

Powered by Blogger.