Komnas Perlindungan Anak: Ibu Negara Perlu Angkat Suara untuk menanggapi Persoalan kekerasan kepada Anak


Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menyatakan Ibu Negara Iriana Joko Widodo perlu angkat suara menanggapi pembunuhan bocah perempuan berusia 9 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual dan ditemukan tewas di dalam kardus di bilangan Kalideres, Jakarta Barat.

Menurut Arist, pembunuhan itu telah menjadi semacam puncak tragedi yang menebar ketakutan orang tua terhadap anak-anaknya. Iriana sebagai simbol ibu negara dinilai perlu angkat bicara menanggapi kasus tersebut, untuk setidaknya menenangkan masyarakat, terutama kalangan orang tua.

“Pembunuhan ini bukan cuma sadis, tapi ini perbuatan biadab. Saya selalu merindukan Ibu Jokowi untuk bicara menanggapi persoalan-persoalan seperti ini, agar semua elemen ikut tergerak,” kata Arist saat dihubungi, Ahad (4/10).

Arist menyatakan Komnas PA akan terjun melibatkan diri dalam penyelidikan dan bekerja sama dengan tim gabungan Kepolisian Resor Jakarta Barat dan unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya.

Tim reaksi cepat Komnas PA bakal memberikan bukti-bukti petunjuk awal, terutama yang berkaitan dengan kronologis kegiatan korban sebelum terbunuh, orang-orang yang terakhir berkomunikasi dengan korban, serta keterangan dari saksi-saksi.

Areal pencarian alat bukti bakal dikonsenterasikan di lokasi yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Berdasarkan pengalaman Komnas PA, kata Arist, kemungkinan penemuan bukti pendukung kerap bermula dari daerah yang tidak jauh dari TKP atau lokasi kediaman korban.

“Pernah kami menyelidiki kasus serupa di Wonogiri, ternyata pelakunya tetangga korban. Semua kemungkinan bisa terjadi di sini,” kata Arist.

Berdasarkan keterangan saksi yang didapat Komnas PA, korban sempat dijemput menggunakan sepeda motor oleh orang asing. Arist menduga komunikasi antara terduga pelaku dengan korban sebelumnya pernah terjadi untuk memuluskan niat jahatnya.

Arist menyatakan modus yang dilakukan pelaku dalam melakukan pembunuhan terbilang sadis. Cara itu dianggap sebagai bukti meningkatnya penyakit sosial masyarakat, yang kini telah banyak dipengaruhi oleh degradasi moral dan kegamaan serta perilaku negatif.

“Intinya saya menilai DKI Jakarta ini sudah darurat kejahatan seksual. Masyarakat sekarang takut saat anaknya ke sekolah, karena predatornya bisa menunggu di mana saja,” kata Arist.

Sementara itu, pihak kepolisian saat ini masih terus memburu pelaku pembunuhan yang membuat geger masyarakat lantaran jasad ditemukan pada Jumat lalu dalam kondisi terikat, mulut tersumpal, dan meringkuk dalam kardus tanpa busana.

No comments

Powered by Blogger.