Refleksi Peringatan Serangan Umum 1 Maret: Transformasi Diri Menjadi Mandiri


Ilustrasi. (Wikipedia)

Kebahagiaan dan kasih sayang adalah naluri dasar setiap insan. Semua orang berlomba dan bekerja keras siang dan malam untuk mendapatkannya hingga terkadang ia lupa akan dirinya. Inilah jiwa pemuda. Jiwa yang penuh gelora dan semangat membara, hingga ketika seorang pemuda sudah tidak lagi punya semangat, harapan dan cita-cita dalam hidupnya maka sesungguhnya ia telah menua sebelum ia tua. Imam Syafi’i pun berkata, “Tidaklah mungkin orang yang punya mimpi dan bercita-cita besar hanya duduk berpangku tangan. Tinggalkanlah watan dan kenyamanan maka kau akan menemukan gantinya karena kenikmatan hidup didapatkan setelah kau melewati kelelahan”. Begitu pun pepatah mengajarkan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakitlah terlebih dahulu, dan bersenang-senanglah kemudian.”

Beginilah hidup dan kehidupan. Ada yang ilmunya tinggi tapi terus belajar. Tapi ada pula yang ilmunya dangkal tapi merasa pintar. Ada yang kebaikannya berlimpah tapi merasa hina. Namun ada juga yang keburukannya berlimpah tapi justru merasa mulia. Dua orang menghadapi masalah yang sama. Yang satu jatuh dan terpuruk namun yang kedua bangkit dan hidupnya terus tumbuh.

Indonesia merupakan negara terpadat keempat didunia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa. Berdasarkan data CIA World Facthbook tahun 2015 yaitu dari jumlah penduduk Indonesia tadi sekitar 27,3 % berusia 0-14 tahun, 66,5 % berumur 15-64 tahun, dan 6,1 % berumur 6,1 %. Hal ini menunjukkan begitu besar jumlah usia produktif di negeri ini, sehingga tidak salah 100 tahun kemerdekaan ke depan Indonesia yaitu tahun 2045, Indonesia diprediksikan bisa menjadi salah satu negara termaju di dunia. Oleh karena itu Soekarno, Presiden pertama Indonesia pun pernah mengatakan, “Berilah aku sepuluh pemuda, maka pasti akan rubah dunia”.

Namun sungguh sangat mengejutkan terhadap apa yang terjadi pada generasi muda Indonesia saat ini. Seolah budaya konsumtif dan materailistik sudah menjamur dan mengikis budaya khas Indonesia seperti berke-Tuhanan, budaya gotong royong, sopan santun hingga berbagai hal yang telah tercantum dalam nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hal inilah yang sedang menjangkit di generasi muda, dan itulah Sindrom.

Ada tiga gejala yang menandakan hal ini yaitu adanya virus Triavialism yaitu suatu penyakit yang menjangkit generasi muda untuk selalu bersenang-senang dan melakukan hal-hal yang menghiburnya saja tanpa memikirkan nilai edukatif di dalamnya. Lalu ada virus Cinderella yaitu suatu penyakit yang inginnya selalu instan dan praktis tanpa ingin berlelah-lelah terlebih dahulu sehingga mengakibatkan virus yang ketiga yaitu virus NEET (No Education, Employee, and Training).

Selain itu, tantangan dan hambatan kian hari makin menantang. Setiap hari pemuda kita disuguhi dengan berbagai keburukan dan masalah melalui media-media elektronik tanpa memberi solusi akan masalah yang sedang terjadi. Seolah bangsa ini tidak lagi punya harapan ke depan. Padahal begitu banyak prestasi membanggakan yang diperoleh anak bangsa dan juga potensi bangsa ini yang belum tereksplorasi secara maksimal.

Begitu banyak ide-ide cemerlang yang diberikan oleh pemuda bangsa ini khususnya para mahasiswa. Mereka terus membangun bangsa lewat berbagai disiplin ilmu yang mereka kuasai dari pertanian, perikanan, militer, hingga politik dan lain sebagainya. Satu hal yang selalu menjadi motivasinya karena mereka memiliki mimpi dan visi yang jauh ke depan.

Memang benar bermimpi, belum tentu menjadikan orang sukses, tapi yakinlah bahwa setiap orang yang sukses pasti punya mimpi-mimpi besar. Begitulah pepatah mengajarkan, “Bermimpilah setinggi langit, jikalau kau jatuh maka kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Anis Baswedan pun mengatakan, “Memang baik meraih suatu mimpi, tetapi lebih baik lagi ketika kau mampu melebihi mimpi tersebut”. Oleh karena itu jangan pernah menurunkan mimpi dan cita-cita tetapi perbesarlah usaha, daya dan kemampuanmu untuk meraih dan menikmatinya.

Begitulah yang terjadi di masa-masa yang terdahulu, bahwa pemudalah yang mampu melakukan perubahan besar terhadap bangsa, agama dan tanah airnya. Dalam agama, ada Ibrahim muda yang menentang Namrud demi tegaknya nilai ketauhidan, ada juga Musa yang menentang Firaun yang zhalim, hingga saat reformasi pemerintahan Indonesia yang berperan dan memberikan andil besar yaitu para pemuda khususnya para mahasiswa.

“Seorang anak muda adalah mereka yang tidak mengatakan ini loh ayahku dan milik ayahku, tetapi inilah diriku”, begitulah Ali bin Abi Thalib menuturkan. Tak ada alasan lagi bagi anak muda untuk bermalas-malasan dan menunggu harta warisan. Karena itu tak ada satupun orang tua didunia ini, yang nalurinya berkeinginan anaknya seperti orang tuanya tetapi mereka semua berharap anak-anaknya mampu berkali-kali melebihi orang tua mereka. Oleh karena itu para leluhur bangsa ini merelakan semuanya dari harta hingga jiwa mereka untuk membebaskan bangsa ini dari tangan para penjajah. Salah satu slogan yang terus dikumandangkan saat itu yaitu “Merdeka atau Mati”. Sudah selayaknya para generasi muda untuk terus berkarya dan melunasi janji-janji kemerdekaan para leluhur bangsa ini. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa terjajah tapi bangsa pejuang, maka tak ada alasan bagi generasi muda untuk berleha-leha dan bermalas-malasan.

Berkembang dan bersaing pula saat ini antara wadah-wadah kebaikan dan langkah-langkah keburukan di seluruh pelosok negeri. Tak ada lagi batas-batas yang jelas antar negara. Oleh karena itu yang diperlukan bukan hanya sebuah selektivitas tetapi juga imunitas. Begitu beruntungnya para generasi muda yang terus melangkah dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan menebar kebaikan. Sedangkan begitu celakanya para generasi muda yang terus-menerus melakukan keburukan dan tidak melakukan perubahan sehingga mereka pun tergerus oleh perubahan zaman. Anis Baswedan mengatakan, “Generasi tua menawarkan masa lalu karena pengalamannya, tetapi generasi muda haruslah menawarkan masa depan karena mereka punya harapan”.

“Pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Karenanya jika kau ingin mengetahui bagaimana suatu negara dimasa yang akan datang maka lihatlah pemudanya yang sekarang”. Begitulah Nabi Muhammad menuturkan. Oleh karena itu perlu adanya suatu pendidikan moral, pengembangan wawasan, ketrampilan serta penanaman rasa nasionalisme pada generasi muda, karena merekalah tulang punggung negara di masa yang akan datang. Salah satunya melalui penanaman nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila dan semboyan bangsa kita “Bhineka Tunggal Eka” kepada mereka sehingga mereka kelak ketika mereka menjadi pemimpin, bukan hanya sebagai Ulil Amri atau Umara tetapi juga bersifat Khadimul Ummah (pelayan umat) dalam segala bidang aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa melihat kaya miskin, pejabat atau rakyat, suku, ras, agama atau hal yang lain karena semua adalah sama dan tetap satu yaitu untuk Indonesia.

Ketika telah tertanam dalam dirinya nilai-nilai kepribadian bangsa tersebut maka menjadilah mereka seorang Pemimpin Pancasilais adalah seorang pemimpin yang selalu dengan teguh dalam mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila dengan sempurna sehingga secara otomatis dalam dirinya terdapat 5 gaya kepemimpinan yang dikombinasikan menjadi satu, karena sila-sila ini saling menjiwai antar satu sila dengan sila yang lain.

Dari sila ke-1 mengandung nilai ke-Tuhanan, yang melahirkan gaya Kepemimpinan Thesisyaitu kepemimpinan yang religius yang melaksanakan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, dan menjauhkan diri dari setiap larangan Tuhan dan agamanya. Lalu sila ke-2 mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang melahirkan Kepemimpinan Humanis yaitu kepemimpinan yang berlandaskan perikemanusiaan yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, etika sosial dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan serta keadilan kepada setiap orang yang dipimpinnya. Selanjutnya dari sila ke-3 mengandung nilai persatuan yang melahirkan gaya Kepemimpinan Nasionalis yaitu kepemimpinan yang memiliki rasa kesetiaan yang tinggi kepada bangsa atau tanah kelahirannya. Lalu pada sila ke-4 mengandung nilai kerakyatan yang lahirkan gaya Kepemimpinan Demokratik yaitu semua kebijakannya berlandaskan pada nilai-nilai kebijaksanaan yang diperuntukkan dari, oleh dan untuk rakyat serta dari sila ke-5 mengandung nilai-nilai keadilan yang melahirkan gaya Kepemimpinan Social Justiceyaitu pemimpin yang pandai dalam membaca situasi, mencari kearifan dan menemukan hal-hal yang tidak pernah dikemukakan oleh orang lain dan benar-benar sesuai dengan kondisi  dan kebutuhan masyarakat.

Selain itu tetap menanamkan nilai-nilai yang diajarkan dalam agama yaitu shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), dan Tabligh (menyampaikan) hingga mereka mampu bertanggung jawab atas segala tindakan atau kebijakan yang telah diambilnya.

Dalam mencapai ini semua tidak hanya dibutuhkan peran dari pemerintah, tetapi yang terpenting adalah peran keluarga.Keluarga merupakan madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) bagi seorang anak. Begitu anak tumbuh kembang dalam keluarga dan lingkungan yang baik maka menjadilah ia anak yang baik pula. Tak ada lingkungan yang bisa tumbuh dengan baik, ketika manusianya buruk dan tak ada manusia yang baik ketika lingkungannya buruk.

Pemuda adalah harapan bangsa dan sungguh sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan paling banyak manfaatnya. Oleh karena itu jadilah pemuda laksana mutiara dan permata bangsa yang tetap menjadi pelita di tengah gelap dan suramnya generasi muda. Mereka para pemuda terus mencoba untuk tetap berkilau, karena mereka yakin tugas mereka adalah optimis bukan menebar caci. Mereka terus berprestasi bukan hanya menebar benci, dan mereka sadar betul tugas mereka adalah terus berkontribusi bukan hanya mengkritik tanpa solusi.

Jadikan hidup penuh dengan pengorbanan. Semakin menjadi hartawan, semakin pula bertambah dermawan. Semakin terkenal, maka ia pun semakin menjadi teladan. Semakin tinggi suatu jabatan, semakin kebermanfaatan dan kemaslahatan yang selalu dipikirkan. Bukan banyaknya gaji ataupun upah yang didapatkan. Bukan pula seberapa banyak media yang meliputnya, namun satu yang selalu diniatkan yaitu mendapat keberkahan dan ikhlaslah yang selalu diperjuangkan. Akhirnya, marilah terus berusaha mencukupi diri dan menjadi pribadi mandiri sehingga mampu selalu membantu dan memberi. Saatnya untuk terus beraksi, berprestasi, berbagi dan semangat berkontribusi!. (hdn)

Sumber: dakwatuna.com

No comments

Powered by Blogger.