MBG: Ketika Akronim Terlihat Mulia, Tapi Realita Tak Selalu Bergizi

Di negeri yang gemar memendekkan kata, lahirlah berbagai akronim kebijakan yang terdengar manis di telinga. Salah satunya adalah MBG. Di atas kertas, ia tampak seperti janji: kepedulian, keberpihakan, dan harapan akan masa depan yang lebih sehat. Namun seperti banyak kebijakan lain, akronim sering kali lebih bergizi daripada pelaksanaannya.

Dalam praktik, MBG justru menjelma menjadi singkatan lain yang lebih jujur dibaca dari lapangan ke lapangan.

MBG: Makan Besar Golongan.
Programnya mengatasnamakan rakyat, tetapi pesta anggarannya berputar di meja segelintir orang. Rakyat mendapat jatah narasi, elit mendapat jatah proyek. Yang kenyang bukan yang lapar, tapi yang berkuasa.

Ada pula yang membaca MBG sebagai Manipulasi Berlabel Gizi.
Labelnya sehat, kemasannya rapi, konferensi persnya penuh senyum. Namun di balik itu, kualitas, pengawasan, dan keberlanjutan kerap menjadi korban. Yang penting bukan isi piring, melainkan dokumentasi pembagiannya.

Tak sedikit yang menyindirnya sebagai MBG: Mengenyangkan Birokrasi Gemuk.
Rantai distribusi panjang, laporan berlapis, dan honor yang lebih dulu kenyang sebelum manfaat benar-benar sampai ke sasaran. Di titik ini, kebijakan sosial berubah fungsi: dari solusi menjadi simulasi.

Bagi masyarakat yang kritis, MBG bahkan terdengar seperti Misi Besar Gagal.
Besar dalam baliho, spanduk, dan pidato; kecil dalam dampak nyata. Karena ketika kebijakan lahir tanpa empati dan dijalankan tanpa pengawasan, yang tersisa hanyalah seremoni.

Ironisnya, semua ini dibungkus dalam narasi moral. Seolah mempertanyakan berarti menolak kebaikan. Padahal kritik justru lahir karena kepedulian. Sebab rakyat tak menuntut kemewahan—mereka hanya ingin kebijakan yang jujur, tepat sasaran, dan tidak menjadikan kemiskinan sebagai panggung pencitraan.

Pada akhirnya, MBG mengajarkan satu hal penting:
akronim bisa dipoles, statistik bisa disusun, tapi kenyang atau tidaknya rakyat tak bisa dibohongi. Perut kosong lebih jujur daripada laporan tebal.

Dan selama kebijakan lebih sibuk mengenyangkan gengnya sendiri, rakyat akan terus menciptakan kepanjangan baru—bukan untuk bercanda, tapi sebagai bentuk perlawanan yang paling sunyi: satire.

Posting Komentar

Jabungonline.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaklah dalam menyampaikan komentar. Komentar atau pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Lebih baru Lebih lama