Jika Suami Memilih Istri, Namun Istri Memilih Anak


Dalam sebuah kelas, seorang suami diminta memilih siapa yang akan ia sisakan hingga akhir hidupnya.
Ia memilih istrinya.

Alasannya sederhana namun dalam:
orang tua akan pergi lebih dulu,
anak akan tumbuh dan membangun hidupnya sendiri,
sementara istri adalah teman seperjalanan yang ia pilih dengan sadar.

Namun bagaimana jika kisah itu dibalik?

Ketika Suami Memilih Istri

Bagi seorang suami, istri adalah:
Perempuan yang dipilihnya dari sekian banyak pilihan,
Teman jatuh bangun saat karier belum mapan.

Saksi saat dirinya gagal, bangkit, lalu jatuh lagi

Orang yang tinggal ketika dunia menjauh

Suami melihat istri sebagai:
“Orang yang akan menua bersamaku.”

Namun Ketika Istri Memilih Anak

Bagi seorang istri, anak adalah:
Darah dan dagingnya
Bagian dari tubuh dan jiwanya
Hasil doa, sakit, air mata, dan pertaruhan nyawa.

Banyak istri, ketika dihadapkan pada pilihan akhir, akan menyisakan anak.
Bukan karena suami tak dicintai…
tetapi karena naluri keibuan berbicara lebih keras daripada logika pernikahan.

Seorang istri sering berpikir:

“Jika semua pergi, setidaknya anakku masih membutuhkanku.”

Di Sini Terjadi Perbedaan Cara Mencinta

Suami Istri

Mencintai dengan kesadaran memilih Mencintai dengan naluri melindungi
Melihat pasangan sebagai tujuan akhir Melihat anak sebagai amanah seumur hidup
Berpikir tentang teman menua Berpikir tentang kelangsungan hidup anak

Bukan siapa yang salah.
Bukan siapa yang lebih mulia.

Hanya cara mencinta yang berbeda.

Luka yang Tak Terucap

Di sinilah sering terjadi luka diam-diam dalam pernikahan:

Suami merasa:
“Aku tidak lagi menjadi prioritas.”

Istri merasa:
“Aku tak bisa meninggalkan anakku.”

Padahal, jika pernikahan sehat:
Suami memilih istri,
Istri tidak harus mengorbankan suami demi anak,
Anak tumbuh di tengah orang tua yang saling memilih satu sama lain

Renungan yang Pahit Tapi Perlu

Anak adalah titipan.
Orang tua adalah masa lalu.
Namun pasangan hidup adalah pilihan sadar yang harus dijaga setiap hari.

Jika suatu hari:
Suami terus memilih istri
Tapi istri hanya menyisakan anak

Maka yang tersisa dalam pernikahan bukan kebersamaan,
melainkan pengorbanan sepihak yang pelan-pelan melelahkan.

Penutup

Cinta terbaik bukan memilih antara suami atau anak.
Cinta terbaik adalah istri yang tetap menjadikan suami rumahnya,
dan suami yang tetap menjadikan istri tujuannya,
sementara anak tumbuh di tengah cinta yang utuh.

Karena kelak… anak akan pergi,
dan yang tersisa di meja makan hanyalah dua orang yang dulu saling memilih.

Posting Komentar

Jabungonline.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaklah dalam menyampaikan komentar. Komentar atau pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Lebih baru Lebih lama