Jabung, Antara Stigma dan Kejujuran yang Tertunda

Jabung terlalu sering muncul ke permukaan bukan karena prestasi, tapi karena berita kriminal. Nama daerah ditulis besar-besar, seolah semua sisi gelap berpusat di sini. Narasi itu terus berulang, membentuk stigma yang pelan tapi pasti menggerus harga diri kolektif.

Namun, ada ironi yang tak bisa dihindari. Di saat sorotan datang dari luar, di dalam justru banyak yang memilih diam. Masalah yang terjadi di sekitar kita kerap dianggap bukan urusan, atau lebih buruk—ditutup-tutupi. Seolah menjaga citra lebih penting daripada memperbaiki kenyataan.

Kita seperti terjebak dalam dua sikap yang sama-sama tidak produktif: ke dalam enggan berbenah, ke luar sibuk mengamati dan menunggu kesalahan orang lain. Padahal, kemajuan daerah tidak pernah lahir dari budaya saling menjatuhkan. Ia tumbuh dari keberanian untuk jujur melihat kekurangan, lalu bergerak memperbaikinya.

Mengkritik itu mudah. Menyalahkan juga tidak butuh modal besar. Tapi membenahi? Itu butuh keberanian, konsistensi, dan kadang harus siap tidak populer. Di sinilah banyak yang mundur.

Jabung bukan daerah tanpa harapan. Potensinya nyata. Pemudanya banyak yang punya kapasitas. Orang-orang baik juga tidak sedikit. Tapi semua itu tidak akan berarti jika energi lebih banyak dihabiskan untuk membesar-besarkan aib, apalagi jika dibungkus kepentingan sesaat.

Sudah waktunya pola pikir ini di-reset. Kejujuran harus jadi fondasi, bukan ancaman. Kepedulian harus jadi gerakan, bukan sekadar wacana. Dan persatuan harus dibangun, bukan hanya dipakai saat momentum tertentu.

Kampung ini tidak butuh lebih banyak “hakim dadakan”. Jabung butuh lebih banyak orang yang berani turun tangan, memperbaiki hal kecil, dan konsisten menjaga lingkungan sendiri.

Karena pada akhirnya, daerah tidak maju oleh mereka yang paling keras menyalahkan, tapi oleh mereka yang diam-diam bekerja dan benar-benar membenahi.

Jadi, kalau masih sibuk cari sensasi, mungkin saatnya upgrade: mulai dari introspeksi. Tanpa itu, semua kritik cuma jadi noise—keras, tapi kosong. 

Oleh : Nanang Wiwit Sinudarsono, S.Pd.

Posting Komentar

Jabungonline.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaklah dalam menyampaikan komentar. Komentar atau pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Lebih baru Lebih lama