Habibie: Presiden Jangan Bikin 10 Masalah Jadi 100 Masalah Baru


Ini berita sudah tiga bulan lalu (Mei 2015) tapi isinya (apa yang disampaikan BJ Habibie) masih sangat relevan. Dan petuah dari Guru Bangsa ini (yang terbukti sudah berhasil perbaikin ekonomi Indonesia saat krisis 1998, dari dolar Rp 16 ribu menjadi Rp 6.500) akan terus relevan sepanjang zaman, terutama bagi para pemimpin.

Habibie: Presiden Jangan Bikin 10 Masalah Jadi 100 Masalah Baru

Presiden ketiga BJ Habibie menyampaikan seorang pemimpin harus menyelesaikan masalah yang ada, bukan menambah masalah. Ia menggarisbawahi ada kebijakan yang irreversible atau tidak bisa diulang.

"Anda harus tahu bawa kebijakan irreversible dan reversible. Jangan sekali ambil kebijakan yang persulit keadaan. Yang tidak menentu jadi lebih tidak menentu. Jangan masuk 10 permasalahan, terus semua irreversible, jadi 100 masalah baru," tegas Habibie di hadapan seribu peserta dalam acara 'Supermentor 6' bertemakan 'Leaders' di Gedung Djakarta Theatre XXI, Jakarta, Minggu (17/5/2015).

"Kalau saya tentukan orang itu hukum mati, tembak. Lalu dilaksanakan, dia mati, terus dikubur. Kemudian 6 bulan kemudian, dia tidak bersalah, tidak bisa saya bangkitkan. Dalam kepemimpinan itu banyak kebijakan irreversible. Saya pernah alami," tambah dia.

Menurut Habibie, dalam mengambil keputusan memang harus memakai pengalaman hidup yang didapat. Tidak ada lembaga pendidikan, yang bisa mengajarkan cara mengambil keputusan.

"Caranya harus Anda lalui, bukan kuliah atau buku, tapi belajar. Saya beruntung, bisa melalui sistem tersebut, belajar banyak, banyak catatan saya. Ketika waktu saya ambil alih, saya bisa bedakan itu, mana yang harus dilaksanakan dan tidak create new problem," ungkap Habibie.

Habibie juga menyampaikan kunci agar menjadi pemimpin yang dapat memajukan bangsa adalah cinta. Ada lima cinta yang harus dilakukan pemimpin.

"Saya mau akhiri, kuncinya itu pada cinta, catat. Pertama, cinta pada sesama manusia. Kedua, cinta pada karya sesama manusia dan lawannya. Ketiga, cinta pada lingkungan dia hidup. Keempat, cinta kepada tugasnya, diselesaikan. Kelima, semua cinta itu dibungkus pada cinta pada Tuhan YME," beber Habibie.

Sumber: liputan6.com

No comments

Powered by Blogger.