Lampung Selatan – Ketua Serikat Buruh Anggota (SBA) SBSX di bawah naungan FPSBI-KSN, Hadi Sholihin, menegaskan pihaknya akan terus bertahan di depan PT San Xiong Steel Indonesia hingga seluruh hak pekerja dibayarkan.
“Kami tidak akan menggeser sedikit pun tenda juang sebelum hak-hak kami dibayarkan,” tegas Hadi Sholihin, Ketua SBA SBSX FPSBI–KSN, saat ditemui di lokasi aksi.
Sebanyak 181 pekerja saat ini masih bertahan di depan perusahaan. Mereka menuntut pembayaran upah selama 10 bulan yang belum dibayarkan, termasuk iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Benturan di Lapangan
Menurut Hadi, situasi sempat memanas ketika sekelompok orang yang disebut sebagai LSM dan diduga preman dari Jakarta datang menggunakan satu bus dengan tujuan membongkar tenda juang.
“Kami dibenturkan dengan pihak luar yang ingin membongkar tenda. Bahkan ada manajemen baru yang mengaku sebagai pemilik sah, tetapi tidak mau membayar gaji karyawan selama 10 bulan maupun kewajiban BPJS,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa lebih dari 100 karyawan yang sebelumnya telah mengundurkan diri hanya menerima pembayaran sekitar 20 persen dari hak yang seharusnya diterima, lalu sebagian direkrut kembali untuk bekerja.
Mediasi Belum Membuahkan Hasil
Upaya mediasi telah dilakukan dengan melibatkan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten, camat, lurah, serta pihak kepolisian. Namun, mediasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Adapun tuntutan pekerja, kata Hadi, meliputi:
1. Pembayaran upah sebesar 70 persen selama 10 bulan.
2. Pelunasan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
3. Tidak adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Sementara itu, pihak perusahaan disebut hanya bersedia membayar 70 persen untuk lima bulan dengan syarat pekerja mengundurkan diri (resign). Tawaran tersebut ditolak oleh para buruh.
Dugaan Upaya Pembongkaran dan Penjualan Aset
Serikat pekerja juga menduga adanya upaya pembongkaran tenda juang serta penjualan aset besi perusahaan di tengah belum selesainya kewajiban pembayaran hak pekerja.
“Kami hanya ingin hak kami dibayarkan. Itu saja. Kami akan tetap bertahan sampai ada kepastian,” tutup Hadi Sholihin.
Hingga berita ini diturunkan, para pekerja masih bertahan di lokasi sebagai bentuk perjuangan menuntut hak-hak mereka dipenuhi. (Alfi)