Industri transportasi pariwisata merupakan salah satu sektor yang terus berkembang. Persaingan antarpengusaha otobus semakin ketat. Armada terus diperbarui, fasilitas semakin lengkap, pelayanan semakin ditingkatkan, dan berbagai paket perjalanan ditawarkan dengan harga yang kompetitif. Namun, di balik kemajuan tersebut, masih ada satu persoalan yang layak menjadi perhatian bersama, yakni kesejahteraan para pengemudi atau driver.
Driver bukan sekadar orang yang memegang kemudi. Mereka adalah ujung tombak keselamatan perjalanan. Puluhan nyawa dipercayakan kepada mereka sejak keberangkatan hingga kembali ke rumah. Tanggung jawab itu tentu tidak ringan, terlebih pada perjalanan jarak jauh seperti agenda Ziarah Walisongo yang berlangsung selama sembilan hari, dengan ritme perjalanan yang padat, siang hingga malam.
Sebagai gambaran, sebuah paket Ziarah Walisongo ditawarkan dengan harga minimal Rp900.000 per peserta. Setiap bus menggunakan konfigurasi kursi 2-2 dengan kapasitas maksimal 48 peserta. Apabila keberangkatan menggunakan dua unit bus, maka jumlah peserta mencapai 96 orang.
Artinya, nilai penjualan paket perjalanan mencapai sekitar Rp86.400.000. Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki nilai ekonomi yang cukup besar dan melibatkan banyak pihak, mulai dari penyelenggara perjalanan, perusahaan otobus, kru bus, hingga berbagai mitra di sepanjang perjalanan.
Namun, di balik besarnya nilai transaksi tersebut, masih ditemukan kondisi di mana uang makan driver hanya diberikan sebesar Rp50.000 per hari.
Jika dihitung secara realistis, nominal tersebut harus mencukupi kebutuhan makan selama sehari penuh. Padahal harga makanan di rest area, kawasan wisata, maupun kota-kota besar saat ini terus mengalami kenaikan. Dengan uang Rp50.000, seorang driver harus memenuhi kebutuhan sarapan, makan siang, dan makan malam. Belum lagi kebutuhan air minum, kopi, atau makanan ringan yang sering kali diperlukan untuk menjaga stamina selama mengemudi dalam waktu yang panjang.
Perlu dipahami bahwa seorang driver dalam perjalanan wisata tidak bekerja seperti jam kantor. Mereka bangun lebih awal untuk mempersiapkan kendaraan, memastikan kondisi bus siap beroperasi, mengantar rombongan ke berbagai destinasi, menghadapi kemacetan, cuaca yang berubah-ubah, hingga mengemudi pada malam hari ketika kondisi tubuh mulai lelah. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan utama: memastikan seluruh penumpang tiba dengan selamat.
Keselamatan perjalanan sangat bergantung pada kondisi fisik dan konsentrasi pengemudi. Driver yang kurang istirahat atau tidak mendapatkan asupan makanan yang layak tentu akan lebih cepat mengalami kelelahan. Dalam dunia transportasi, kelelahan adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Oleh karena itu, memberikan uang makan yang layak bukanlah pemborosan biaya operasional. Sebaliknya, hal itu merupakan investasi bagi keselamatan penumpang sekaligus peningkatan kualitas pelayanan. Driver yang sehat, bugar, dan merasa dihargai akan bekerja dengan lebih tenang, lebih fokus, dan lebih bertanggung jawab.
Nominal Rp75.000 hingga Rp100.000 per hari untuk uang makan driver pada perjalanan lintas provinsi selama sembilan hari merupakan angka yang lebih realistis. Jika dibandingkan dengan total nilai perjalanan yang mencapai puluhan juta rupiah, penyesuaian tersebut tidak akan memberikan beban yang signifikan bagi perusahaan, tetapi akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kesejahteraan kru.
Tulisan ini bukan bertujuan menyalahkan ataupun menyudutkan para pengusaha otobus. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk bersama-sama membangun industri transportasi pariwisata yang semakin profesional, berkeadilan, dan mengedepankan keselamatan.
Sebab sehebat apa pun armada yang dimiliki, semewah apa pun fasilitas yang ditawarkan, semuanya tidak akan berarti tanpa sosok driver yang mengantarkan setiap penumpang pulang dengan selamat.
Sudah saatnya kita memandang kesejahteraan driver bukan sebagai beban biaya, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas profesi yang setiap hari mengemban amanah keselamatan banyak orang.
Karena pada akhirnya, perjalanan yang baik bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang bagaimana semua orang dapat kembali ke rumah dengan selamat.