Indonesia sedang berada dalam sebuah eksperimen besar bernama Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, saat kalender pendidikan memasuki masa libur panjang, sebuah pertanyaan logis muncul ke permukaan: Mumpung sedang libur, kenapa program ini tidak ikut libur dulu?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal malas atau rajin, melainkan soal akal sehat logistik dan skala prioritas nasional yang sedang diuji oleh duka di Sumatera.
Mendistribusikan ribuan kotak makanan saat siswa tidak ada di sekolah adalah sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan.
Opsi A: Siswa disuruh mengambil ke sekolah. Reality check: Berapa banyak anak yang rela berangkat ke sekolah saat libur demi senampan nasi?
Opsi B: Dikirim ke rumah masing-masing. The Problem: Siapa yang mau jadi kurirnya? Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tentu akan angkat tangan kecuali ada anggaran bensin tambahan yang fantastis.
Memaksakan program ini berjalan saat libur sekolah terasa seperti memaksakan sebuah "pesta" di ruangan yang kosong.
Di saat kita bingung bagaimana cara menyalurkan susu dan telur ke rumah-rumah siswa yang sedang asyik liburan, saudara-saudara kita di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya sedang memikul beras belasan kilometer di tengah lumpur seperti kisah Azir yang kita ketahui.
Dana untuk program makan bergizi saat libur sekolah ini sebenarnya adalah "tambang emas" yang bisa dialihkan sementara. Bayangkan jika anggaran makan gratis selama dua minggu masa libur itu dikonversi menjadi:
Helikopter untuk distribusi logistik ke daerah terisolasi.
Ribuan unit Genset untuk puskesmas darurat yang masih gelap gulita.
Pembangunan hunian sementara bagi mereka yang rumahnya rata dengan tanah.
Bukankah memberikan "makan bergizi" kepada pengungsi yang kelaparan jauh lebih mendesak daripada memberikannya kepada siswa yang sedang berada di rumah dalam kondisi (semoga) aman?
Memaksakan program tetap jalan saat libur seringkali hanya dilakukan demi menjaga angka statistik atau sekadar "asal bapak senang" agar program unggulan terlihat tanpa celah. Padahal, manajemen krisis yang baik adalah manajemen yang tahu kapan harus menekan tombol pause pada satu hal demi menyelamatkan hal lain yang lebih krusial.
Negara yang bijak tidak akan membiarkan rakyatnya di Sumatera merasa dianaktirikan karena melihat dana triliunan terus mengalir untuk makan gratis di tempat yang tidak darurat, sementara mereka harus mengibarkan bendera putih untuk meminta sesuap nasi.
Program Makan Bergizi adalah niat baik, tapi niat baik tanpa fleksibilitas di tengah bencana bisa berubah menjadi ketidakadilan. Liburkan dulu program MBG selama masa libur sekolah. Gunakan seluruh "power," anggaran, dan infrastruktur distribusinya untuk mempercepat pemulihan Sumatera.
Karena pada akhirnya, gizi yang paling dibutuhkan bangsa ini saat ini bukan hanya karbohidrat dan protein di dalam kotak nasi, melainkan nutrisi empati dari para pembuat kebijakan.
Jangan sampai kita kenyang di saat saudara kita hilang.
---
Andrian
22 Desember 2025
2 Rajab 1447H
#PrayForSumatera #BanjirSumatera #MBG
Tags
Opini