Sekolah Rakyat: Berhasil Mendidik Anak Miskin atau Benar-Benar Memutus Rantai Kemiskinan?


Jabungonline.com - Secara desain, Sekolah Rakyat memang diarahkan untuk keluarga miskin ekstrem/miskin dan bukan sekadar menyediakan pendidikan gratis. Program ini membawa misi memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan, karakter, dan pemberdayaan.

Jadi, apa indikator keberhasilan Sekolah Rakyat?

Saya akan membaginya menjadi 5 tingkat:

Tingkat Indikator Pertanyaan Kuncinya
1. Akses Anak dari keluarga miskin benar-benar memperoleh pendidikan Apakah anak yang sebelumnya sulit mengakses sekolah kini bersekolah?
2. Kualitas Kompetensi akademik dan nonakademik meningkat Apakah kemampuan mereka mampu mengejar atau bahkan melampaui anak dari keluarga mampu?
3. Mobilitas Pendidikan Lulusan melanjutkan ke SMA/PT atau pendidikan vokasi berkualitas Setelah lulus, mereka ke mana?
4. Mobilitas Ekonomi Lulusan memperoleh pekerjaan/penghasilan yang lebih baik Apakah pendidikan mengubah posisi ekonomi mereka?
5. Pemutusan Kemiskinan Antargenerasi Anak tidak kembali menjadi bagian dari siklus kemiskinan keluarganya Apakah anak tersebut kelak mampu mengangkat keluarganya dari kemiskinan?

Nah, indikator nomor 5 adalah indikator paling penting.

Sebab kalau Sekolah Rakyat hanya menghasilkan anak miskin yang bersekolah di tempat gratis, tinggal di asrama, makan gratis, lalu setelah lulus tetap miskin, pemerintah sebenarnya baru berhasil menyelenggarakan pendidikan—belum tentu berhasil mengentaskan kemiskinan.

Ukuran keberhasilannya harus berani sampai 10–15 tahun

Misalnya pemerintah menetapkan:

“Lulusan Sekolah Rakyat harus memiliki mobilitas sosial-ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan kondisi keluarganya ketika pertama masuk.”

Maka yang harus diukur bukan hanya nilai rapor.

Tetapi:

  • berapa persen melanjutkan pendidikan;
  • berapa persen masuk perguruan tinggi;
  • berapa persen memperoleh beasiswa;
  • berapa persen masuk dunia kerja;
  • berapa persen memperoleh pekerjaan layak;
  • berapa persen menjadi wirausaha;
  • berapa peningkatan pendapatan setelah bekerja;
  • berapa yang berhasil keluar dari kelompok miskin;
  • bagaimana kondisi ekonomi keluarga setelah anak mandiri;
  • dan yang paling penting, apakah anak mereka kelak tidak kembali mengalami kemiskinan yang sama.

Ini sejalan dengan gagasan bahwa Sekolah Rakyat diarahkan untuk menjadi instrumen pemutus transmisi kemiskinan antargenerasi, bukan sekadar program pendidikan bagi keluarga miskin.

Bahkan ada satu indikator yang menurut saya sangat penting: quality parity

Kalau pemerintah mengatakan Sekolah Rakyat bertujuan memberikan pendidikan berkualitas kepada anak dari keluarga miskin, maka harus ada pembanding.

Misalnya:

Anak keluarga miskin → Sekolah Rakyat → hasil pendidikan

dibandingkan dengan:

Anak keluarga mampu → sekolah berkualitas → hasil pendidikan.

Bukan berarti keduanya harus memiliki sekolah yang sama. Tetapi kesempatan dan hasil pendidikannya tidak boleh berbeda terlalu jauh hanya karena status ekonomi orang tua.

Sebab pemerataan pendidikan bukan sekadar:

“Si miskin akhirnya bisa sekolah.”

Tetapi:

“Si miskin mendapatkan kualitas pendidikan yang membuatnya mampu bersaing dengan si kaya.”

Pemerintah sendiri dalam berbagai kebijakan pendidikan telah menempatkan akses sekaligus kualitas sebagai dua unsur penting pemerataan pendidikan.

Dan di sinilah Sekolah Rakyat harus diuji

Saya justru akan mengajukan 10 indikator keberhasilan Sekolah Rakyat:

  1. Tepat sasaran — benar-benar anak dari keluarga miskin/miskin ekstrem.
  2. Tidak ada anak miskin yang kehilangan akses pendidikan.
  3. Peningkatan kemampuan akademik yang terukur.
  4. Peningkatan literasi dan numerasi.
  5. Pembentukan karakter, disiplin, kepemimpinan dan kemandirian.
  6. Kelanjutan pendidikan setelah lulus.
  7. Akses terhadap perguruan tinggi atau pendidikan vokasi berkualitas.
  8. Keterserapan di dunia kerja atau kemampuan berwirausaha.
  9. Peningkatan status ekonomi keluarga.
  10. Putusnya rantai kemiskinan antargenerasi.

Dan saya akan menambahkan satu indikator yang sering dilupakan:

11. Apakah lulusan Sekolah Rakyat mampu kembali menjadi agen perubahan di keluarganya?

Ini penting karena konsep Sekolah Rakyat sendiri diarahkan untuk mencetak agen perubahan dalam keluarga miskin.


Jadi, kalau dirumuskan sederhana:

Keberhasilan Sekolah Rakyat bukan diukur dari berapa banyak anak miskin yang masuk asrama.

Keberhasilannya diukur dari berapa banyak anak miskin yang setelah keluar dari Sekolah Rakyat mampu keluar dari kemiskinan, memperoleh pendidikan/pekerjaan yang layak, meningkatkan kesejahteraan keluarganya, dan memastikan anak-anaknya kelak tidak mengalami kemiskinan yang sama.

Karena kalau ukuran keberhasilannya hanya jumlah sekolah, jumlah murid, jumlah guru, fasilitas, makan gratis, dan kelulusan, pemerintah bisa saja mendapatkan program yang terlihat sukses secara administratif tetapi gagal secara sosial.

Posting Komentar

Jabungonline.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaklah dalam menyampaikan komentar. Komentar atau pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Lebih baru Lebih lama