Jawa Timur Waspada Flu: Lonjakan Influenza A dan Peran Jamu sebagai Tameng Komplementer

Penulis: Yetty Yulia, S. Ud.
Mahasiswi Universitas Jiangxi, China — Jurusan Kedokteran TCM
Mahasiswi Institut Nalanda — Jurusan Ilmu Komunikasi dan Bisnis

Editor: BangJO Zend
Ahad, 27 September 2026

Jawa Timur dalam Sorotan: Lonjakan Kasus dan Respons Cepat

Kasus Influenza A dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur menunjukkan peningkatan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi dan memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi kemungkinan peningkatan pasien.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, meminta seluruh rumah sakit daerah meningkatkan kesiapsiagaan menyusul meningkatnya keluhan ISPA dan Influenza A di sejumlah wilayah.

Menurutnya, perkembangan kasus perlu terus dipantau dan rumah sakit harus sigap memberikan penanganan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Namun, peningkatan kasus tidak terjadi secara merata. Beberapa wilayah justru mencatat penurunan, sementara daerah lainnya mengalami peningkatan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan pemantauan akan terus dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan.

Data Kasus Menjadi Perhatian

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan Jawa Timur termasuk wilayah yang memiliki kasus Influenza A (H3N2) subklad K cukup tinggi. Di sisi lain, pemantauan influenza-like illness (ILI) juga menunjukkan angka kasus yang cukup besar di provinsi tersebut.

Di tingkat daerah, peningkatan keluhan flu dan ISPA juga dilaporkan terjadi di sejumlah kabupaten dan kota.

Kabupaten Sampang, misalnya, mencatat peningkatan suspek Influenza A dalam beberapa pekan. Kabupaten Jember juga melaporkan kasus ISPA dan influenza, dengan balita menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Di Kota Malang, kasus influenza juga ditemukan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dampaknya bahkan terasa di lingkungan pendidikan ketika sejumlah pelajar mengalami flu dan batuk sehingga sekolah menerapkan penggunaan masker sebagai langkah pencegahan.

Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya yang menjadi salah satu laboratorium rujukan kawasan Jawa Timur dan wilayah sekitarnya juga mencatat adanya peningkatan temuan influenza A.

Data tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan, terutama ketika memasuki periode perubahan cuaca yang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan saluran pernapasan.

H1N1pdm09 dan H3N2 Subklad K

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat, istilah "Super Flu" kembali beredar. Namun, informasi mengenai jenis influenza perlu dipahami secara hati-hati.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa salah satu subtipe yang beredar adalah Influenza A (H1N1)pdm09, yaitu subtipe yang dikenal sejak pandemi influenza 2009. Sementara H3N2 subklad K juga ditemukan, tetapi tidak dapat secara otomatis disebut sebagai penyebab seluruh peningkatan kasus influenza saat ini.

Karena itu, masyarakat perlu menghindari kepanikan dan tidak menyamakan setiap kasus flu atau ISPA dengan satu varian tertentu.

Gejala influenza pada umumnya dapat berupa demam, batuk, pilek, nyeri otot, sakit kepala, rasa lelah dan tidak enak badan. Tingkat keparahan dapat berbeda pada setiap orang.

Kelompok seperti balita, lanjut usia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko mengalami komplikasi yang lebih serius.

Jamu sebagai Pendamping Upaya Menjaga Kesehatan

Di tengah meningkatnya kasus flu dan ISPA, kearifan lokal berupa jamu kembali mendapat perhatian masyarakat Jawa Timur.

Di sejumlah daerah, konsumsi jamu tradisional meningkat seiring perubahan musim. Bahan seperti jahe, serai, kunyit, temulawak, pegagan dan kapulaga telah lama digunakan masyarakat sebagai bagian dari tradisi menjaga kebugaran tubuh.

Di Kediri, misalnya, permintaan jamu tradisional dilaporkan mengalami peningkatan. Sementara di sejumlah daerah lain, masyarakat memanfaatkan bahan herbal seperti daun sirih, daun kelor, jahe, kunyit dan temulawak.

Bagi masyarakat Indonesia, jamu bukan sekadar minuman tradisional, tetapi bagian dari warisan pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman untuk menjaga kebugaran.

Apa Kata Sains tentang Rempah?

Sejumlah penelitian memang menunjukkan bahwa beberapa tanaman obat memiliki kandungan bioaktif yang berpotensi memberikan aktivitas antioksidan, antiinflamasi maupun antivirus.

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza), misalnya, mengandung kurkuminoid yang telah banyak diteliti. Begitu pula jahe dan kunyit yang memiliki berbagai senyawa aktif dengan potensi biologis.

Namun, ada hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Sebagian bukti mengenai aktivitas antivirus tanaman herbal masih berasal dari penelitian in vitro atau penelitian pada hewan. Hasil tersebut tidak otomatis berarti bahwa konsumsi jamu dapat mencegah atau menyembuhkan influenza pada manusia.

Dengan demikian, diperlukan penelitian klinis lebih lanjut untuk memastikan efektivitas, dosis, keamanan, serta manfaatnya pada manusia.

Tradisi dan Sains Harus Berjalan Berdampingan

Pemanfaatan jamu sebaiknya ditempatkan sebagai bagian komplementer, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan pengobatan medis.

Masyarakat tetap perlu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan benar, menjaga etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di lingkungan berisiko, menjaga pola istirahat dan memenuhi kebutuhan cairan serta nutrisi.

Jika mengalami gejala yang semakin berat, terutama sesak napas, penurunan kesadaran, dehidrasi, atau demam yang tidak membaik, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada akhirnya, menghadapi musim flu bukan hanya soal memilih antara pengobatan modern atau pengobatan tradisional. Keduanya memiliki ruang masing-masing ketika digunakan secara tepat dan berdasarkan bukti.

Jamu dapat menjadi bagian dari kekayaan budaya dan pilihan pendamping untuk menjaga kebugaran, sementara diagnosis serta penanganan penyakit tetap perlu mengacu pada pelayanan kesehatan yang tepat.

Waspada bukan berarti panik. Memanfaatkan kearifan lokal bukan berarti meninggalkan ilmu pengetahuan. Yang terpenting adalah menggunakan keduanya secara bijak demi menjaga kesehatan masyarakat.

Posting Komentar

Jabungonline.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaklah dalam menyampaikan komentar. Komentar atau pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Lebih baru Lebih lama