Oleh: BangJO Zend
Ada dua kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sosial, organisasi, maupun dunia kerja: dihormati dan dihargai.
Sekilas, keduanya terdengar sederhana. Bahkan, hampir semua orang menginginkan hal yang sama. Siapa yang tidak ingin dihormati dan dihargai oleh orang lain?
Namun, persoalannya muncul ketika kedua kata tersebut salah dimaknai. Sesuatu yang seharusnya menjadi fondasi hubungan yang sehat justru bisa berubah menjadi sumber konflik, kesenjangan, bahkan penghambat kemajuan.
Dihormati bukan berarti harus selalu dituruti. Dihargai bukan berarti harus selalu disetujui.
Di sinilah letak persoalan yang sering tidak disadari.
Ada orang yang merasa tidak dihormati hanya karena pendapatnya dibantah. Ada pula yang merasa tidak dihargai hanya karena keinginannya tidak dipenuhi. Padahal, perbedaan pendapat bukanlah bentuk ketidakhormatan, sebagaimana penolakan terhadap sebuah gagasan tidak selalu berarti merendahkan seseorang.
Kita perlu membedakan antara menghormati pribadi dan menyetujui pemikiran.
Seseorang tetap layak dihormati meskipun gagasannya perlu dikritisi. Seseorang tetap layak dihargai meskipun keputusannya tidak selalu menjadi pilihan terbaik.
Sayangnya, dalam praktik kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan kerja dan organisasi, penghormatan terkadang disalahartikan sebagai kepatuhan mutlak. Sementara penghargaan sering dimaknai sebagai keharusan untuk mengakui kehebatan, jabatan, atau posisi seseorang tanpa ruang untuk memberikan masukan.
Akibatnya, kritik dianggap pembangkangan, pertanyaan dianggap perlawanan, dan perbedaan pendapat dipandang sebagai ancaman.
Jika pola pikir seperti ini terus dipelihara, organisasi akan kehilangan budaya dialog. Orang-orang menjadi lebih sibuk menjaga perasaan dan posisi daripada memperbaiki keadaan.
Padahal, organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang seluruh anggotanya selalu sepakat. Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menampung perbedaan, menerima kritik, dan menjadikan setiap masukan sebagai bahan evaluasi.
Menghormati seseorang tidak berarti meniadakan keberanian untuk mengingatkan. Menghargai seseorang juga tidak berarti harus membenarkan setiap tindakannya.
Sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan cara yang santun justru bisa menjadi bentuk kepedulian. Mengingatkan seseorang ketika keliru bukan berarti tidak menghormatinya, melainkan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Begitu pula dengan jabatan dan senioritas. Keduanya memang patut mendapatkan penghormatan sesuai kapasitas dan tanggung jawabnya. Namun, jabatan tidak seharusnya menjadi tameng untuk menghindari kritik, dan senioritas tidak boleh menjadi alasan untuk menutup ruang pembelajaran.
Sebab, penghormatan yang menuntut seseorang untuk selalu diam bukanlah penghormatan yang sehat. Penghargaan yang hanya diberikan kepada mereka yang selalu setuju juga bukan penghargaan yang dewasa.
Pada akhirnya, kita perlu memahami bahwa dihormati dan dihargai bukan semata-mata tentang bagaimana orang lain memperlakukan kita, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Jangan sampai keinginan untuk dihormati membuat kita kehilangan kerendahan hati. Jangan pula keinginan untuk dihargai menjadikan kita alergi terhadap kritik.
Sebab, kedewasaan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak orang yang menunduk di hadapannya, melainkan dari seberapa lapang ia menerima perbedaan dan seberapa bijak ia menyikapi kritik.
Ingat, kita boleh berharap untuk dihormati dan dihargai. Tetapi jangan pernah menjadikan dua kata itu sebagai alasan untuk membungkam orang lain.